Latest Post :

Asuhan Keperawatan Keluargga Dengan TB




BAB I
PENDAHULUAN
I.                   Definisi keluarga
        Banyak ahli menguraikan pengertian keluarga sesuai dengan perkembangan sosial masyarakat. Berikaut akan dikemukakan beberapa pengertian keluarga.
        Keluarga adalah sebuah kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih yang masing-masing mempunyai hubungan kekerabatan yang terdiri dari bapak, ibu, adik, kakak dan nenek.( Raisner ,1980)
        Keluarga adalah sebuah sistem sosial dan kumpulan daribeberapa komponen yang saling berinteraksi satu dengan lainnya. Keluarga adalah sebagaimana sebuah kesatuan yang kompleks dengan atribut yang dimiliki tetapi terdiri dari beberapa komponen yang masing-masing mempunyai sebagaimana individu. (Gillis 1983)
        Dari uraian diatas menunjukan bahwa keluarga juga merupakan suatu sistem. Sebagai sistem keluarga mempunyai anggota yaitu; ayah, ibu dan anak atau semua individu yang tinggal didalam rumah tangga tersebut.anggota keluarga saling berinteraksi, interelasi dan interdependensi untuk mencapai tujuan bersama. Keluarga merupakan sistem yang terbuka sehingga dapat dipengaruhi oleh supra sistemnya yaitu lingkungannya yaitu masyarakat dan sebaliknya sebagai subsitem dari lingkungan (masyarakat) keluarga dapat mempengaruhi masyarakat (supra sistem). Oleh karena itu betapa pentingnya peran dan fungsi keluarga dalam membentuk manusia sebagai anggota masyarakat yang sehat biopsikososial spiritual. Jadi sangatlah tepat jika keluarga sebagai titik sentral pelayanan keperawatan . Diyakini bahwa keluarga yang sehat akan mempunyai anggota yang sehat dan mewujudkan masyarakat yang sehat.





II.                 Tipe keluarga
          Keluarga yang memerlukan pelayanan kesehatan berasal dari berbagai macam pola kehidupan. Sesuai dengan perkembangan sosial maka tipe keluarga berkembang mengikutinya. Agar dapat mengupayakan peran serta keluarga dalam meningkatkan derajat kesehatan maka perawat perlu mengetahui berbagai tipe keluarga.
A.            Tipe keluarga tradisional
1.             The Nuclear family (Keluarga inti) yaitu keluarga yang terdiri dari suami istri dan anak (kandung atau angkat).
2.             The dyad family , suatu rumah tangga yang terdiri dari suami istri tanpa anak.
3.             Keluarga usila, Keluarga terdiri dari suami dan istri yang sudah usia lanjut, sedangkan anak sudah memisahkan diri.
4.             The childless, Keluarga tanpa anak karena telambat menikah, bisa disebabkan karena mengejar karir atau pendidikan.
5.             The Extended family , keluarga yang terdiri dari keluarga inti ditambah keluarga lain, seperti paman, bibi, kakek, nenek dan lain-lain.
6.             “Single parent” yaitu keluarga yang terdiri dari satu orang tua dengan anak(kandung atau angkat). Kondisi ini dapat disebabkan oleh perceraian atau kematian).
7.             Commuter family, kedua orang tua bekerja diluar kota, dan bisa berkumpul pada hari minggu atau libur saja.
8.             Multigeneration family, Beberapa generasi atau kelompok umur yang tinggal bersama dalam satu rumah.
9.             Kin-network family, beberapa keluarga yang tinggal bersama atau saling berdekatan dan menggunakan barang-barang pelayanan seperti dapur, sumur yang sama.
10.         Blended family, keluarga yang dibentuk dari janda atau duda dan membesarkan anak dari perkawinan sebelumnya.
11.         “Single adult living alone” yaitu suatu rumah tangga yang terdiri dari satu orang dewasa.



B.    Tipe keluarga non tradisional
1.             The unmarried teenage mother, Keluarga yang terdiri dari satu orang dewasa terutama ibu dengan anak dari hubungan tanpa nikah.
2.             The Step parent family, keluarga dengan orang tua tiri.
3.             Commune family, yaitu lebih satu keluarga tanpa pertalian darah yang hidup serumah.
4.             The non marrital heterosexual cohabiting family, keluarga yang hidup bersama, berganti-ganti pasangan tanpa nikah.
5.             Gay and lesbian family, seorang yang mempunyai persamaan sex tinggal dalam satu rumah sebagaimana pasangan suami istri.
6.             Cohabitating couple, orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan perkawinan karena alasan tertentu.
7.             Group marriage family, beberapa orang dewasa yang telah merasa saling menikah, berbagi sesuatu termasuk sex dan membesarkan anak.
8.             Group network family, beberapa keluarga inti yang dibatasi oleh norma dan aturan, hidup berdekatan dan saling menggunakan barang yang sama dan bertanggung jawab membesarkan anak.
9.             Foster family, keluarga yang menerima anak yang tidak ada hubungan saudara untuk waktu sementara.
10.         Homeless family, keluarga yang terbentuk tanpa perlindungan yang permanen karena keadaan ekonomi atau problem kesehatan mental.
11.         Gang, Keluarga yang destruktif dari orang-orang muda yang mencari ikatan emosional, berkembang dalam kekerasan dan kriminal.

C.     Fungsi keluarga
Friedman 1986 mengidentifikasi lima fungsi dasar keluarga yaitu:
1.                  Fungsi afektif
     Berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga yang merupakan basis kekuatan keluarga. Berguna untuk pemenuhan kebutuhan psikososial. Keberhasilanm elaksanakan fungsi afektif tampak pada kebahagiaan dan kegembiraan dari seluruh anggota keluarga. Tiap anggota keluarga saling mempertahankan iklim yang positif. Hal tersebut dipelajari dan dikembangkan melalui interaksi dan hubungan dalam keluarga. Dengan demikian keluarga yang berhasil melaksanakan fungsi afektif, seluruh keluarga dapat mengembangkan konsep diri yang positif. Komponen yang perlu dipenuhi oleh keluarga dalam memenuhi fungsi afektif adalah:
a. Saling mengasuh, cinta kasih, kehangatan, saling menerima, saling mendukung antar anggota keluarga. Setiap anggota yang mendapatkan kasih sayang dang dukungan dari anggota yang lain maka kemampuannya untuk memberikan kasih sayang akan meningkat yang pada akhiranya tercipta hubungan yang hangat dan saling mendukung. Hubungan intim didalam keluarga merupakan modal dasar dalam memberi hubungan dengan orang lain diliar keluarga atau masyarakat.
b. Saling menghargai, bila anggota keluarga saling menghargai dan mengakui keberadaan dan hak setiap anggota keluarga serta selalu mempertahankan iklim yang positif maka fungsi afektif akan tercapai.
c. Ikatan dan identifikasi, ikatan dimulai sejak pasangan sepakat memulai hidup baru. Ikatan anggota keluarga dikembangkan melalui proses identifikasi dan penyesuaian pada berbagai aspek kehidupan anggota keluarga. Orang tuan harus mengembangkan proses identifikasi yang positif sehingga anak-anak dapat meniru perilaku yang positif tersebut
Fungsi afektif merupakan sumber energi yang menentukan kebahagiaan keluarga. Keretakan keluarga, kenakalan anak atau masalah keluarga timbul karena fungsi afektif keluarga tidak terpenuhi.
2.                               Fungsi sosialisasi
          Sosialisasi adalah proses perkembangan dan perubahan yang dilalui individu, yang menghasilkan interaksi sosial dan belajar berperan dalam lingkungan sosial (Friedman, 1986)
          Sosialisasi dimulai sejak lahir. Keluarga merupakan tempat individu untuk belajar bersosialisasi. Keberhasilan perkembangan individu dan keluarga dicapai melalui interaksi atau hubungan antar anggota keluarga yang diwujudkan dalam sosialisasi. Anggota keluarga belajar disiplin, belajar norma-norma, budaya dan perilaku melalui hubungan dan interaksi dengan keluarga.
3.              Fungsi reproduksi: Keluarga berfungsi untuk meneruskan keturunan dan menambah sumber daya manusia.

4.                   Fungsi ekonomi: Funsi ekonomi merupakan fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan semua anggota keluarga, seperti kebutuhan makanan, tempat tinggal dan lain sebagainya.

5.                   Fungsi perawatan kesehatan: Keluarga juga berfungsi untuk melaksanakan praktek asuhan kesehatan, yaitu mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan/atau merawat anggota keluarga yang sakit. Kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan kesehatan mempengaruhi status kesehatan keluarga. Kesanggupan keluarga melaksanakan pemeliharaan kesehatan dapat dilihat dari tugas kesehatan keluarga yang dilaksanakan. Keluarga dapat melaksanakan tugas kesehatan berarti sanggup menyelesaikan masalah kesehatan keluarga.
Þ                Tugas kesehatan keluarga adalah sebagai berikut (Friedman, 1998
a.                    Mengenal masalah
b.                  Membuat keputusan tindakan yang tepat
c.                   Memberikan perawatan pada anggota keluarga yang sakit
d.                  Mempertahankan atau menciptakan suasana rumah yang sehat
e.                   Mempertahankan hubungan dengan fasilitas kesehatan masyarakat.
D.           Dimensi dasar struktur keluarga
Menurut Friedman struktur keluarga terdiri atas:
a.              Pola dan proses komunikasi
§    Pola interaksi keluarga yang berfungsi:
1.         Bersifat terbuka dan jujur
2.         Selalu menyelesaikan konflik keluarga
3.          Berpikiran positif
4.         Tidak mengulang-ulang isu dan pendapatnya sendiri
§    Karakteristik komunikasi keluarga yang berfungsi
Þ           Karakteristik pengirim:
1.             Yakin dalam mengemukakan pendapat
2.          Apa yang disampaikan jelas dan berkualitas
3.         Selalu minta maaf dan menerima umpan balik
Þ       Karakteristik penerima
1.          Siap mendengar
2.          Memberikan umpan balik
3.         Melakukan validasi
b.                       Struktur peran
              Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai dengan posisi sosial yang diberikan. Yang dimaksud dengan posisi atau status individu dalam masyarakat misalnya sebagai suami/istri atau anak.
c.                       Struktur kekuatan
Kekuatan merupakan kemampuan (potensial atau aktual) dari individu untuk mengendalikan atau mempengaruhi untuk merubah perilaku orang lain kearah positif.. Tipe struktur kekuatan :
1.     Legitimate power/authority: Hak untuk mengatur seperti orang tua kepada anak.
2.    Referent power: Seseorang yang ditiru
3.     Reword Power: Pendapat ahli
4.     Coercive power: Dipaksakan sesuai keinginan
5.     Informational power: Pengaruh melalui persuasive
6.    Affectif power: Pengaruh melalui manipulasi cinta kasih.
d.                       Nilai-nilai keluarga
              Nilai merupakan suatu sistem, sikap dan kepercayaan yang secara sadar atau tidak, mempersatukan anggota keluarga dalam satu budaya. Nilai keluarga juga merupakan suatu pedoman perilaku dan pedoman bagi perkembangan norma dan peraturan. Norma adalah pola perilaku yang baik, menurut masyarakat berdasarkan sistem nilai dalam keluarga. Budaya adalah kumpulan dari pola perilaku yang dapat dipelajari, dubagi dan ditularkan dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

I.                   PENGERTIAN
Tuberculosis (TB) adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang perankim paru. Tuberculosis dapat juga ditularkan kebagian tubuh lainnya, terutama meninges, ginjal, tulang, dan nodus limfe (Suzanne dan Brenda, 2001)
Tuberculosis (TB) adalah penyakit akibat kuman mycobacterium tuberculosis sitemis sehingga dapat mengenai semua organ tubuh dengan lokasi terbanyak diparu-paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer (Arif Mansjoer, 2000)
  Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan basil Mycobacterium Tuberculosa, atau basil tuberkel, yang tahan asam. ( dr, Jan Tambayong, 2000 ).
Tuberkulosis paru adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB yaitu Mycobacterium Tuberkulosa yang hanya dapat dilihat dengan kaca pembesar (mikroskop).

II.                ETIOLOGI
Tuberculosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan Micobacterium bovis (sangat jarang disebabkan oleh Micobacterium avium). Mycobacterium tuberculosis ditemukan oleh Robert Koch pada tahun 1882. Basil tuberkulosis dapat hidup dan tetap virulen beberapa minggu dalam keadaan kering, tetapi dalam cairan mati pada suhu 60°C dalam 15-20 menit. Fraksi protein basil tuberculosis menyebabkan nekrosis jaringan sedangkan lemaknya menyebabkan sifat tahan asam dan merupakan faktor penyebab terjadinya fibrosis dan terbentuknya sel epiteloid dan tuberkel. Basil Mycobacterium tuberculosis tidak membentuk toksin (baik endotoksin maupun eksotoksin).
Penularan Mycobacterium tuberculosis biasanya melalui udara hingga sebagian besar fokus primer tuberculosis terdapat dalam paru. Selain melalui udara penularan dapat peroral misalnya minum susu yang mengandung basil tuberculosis, biasanya Mycobacterium bovis. Dapat juga terjadi dengan kontak langsung misalnya melalui luka atau lecet di kulit. Tuberculosis kongenital sangat jarang dijumpai. Selain Myco bacterium tuberculosis perlu juga dikenal golongan Mycobacterium lain yang dapat menyebabkan kelainan yang menyerupai tuberculosis. Golongan ini disebut Mycobacterium atipic atau disebut juga unclassified Mycobacterium.

Þ                  Faktor Pencetus
Ø  Adanya sumber  penularan  (Kontak langsung 1 rumah)
Ø  Gizi yang kurang.
Ø  Daya Tahan tubuh rendah.
Ø  Tingkat social ekonomi.
Ø  Faktor  usia, nutrisi, imunisasi,
Ø  Keadaan perumahan meliputi (suhu dalam rumah,ventilasi, pencahayaan dalam rumah, kelembaban rumah, kepadatan penghuni dan lingkungan sekitar rumah )
Ø   Pekerjaan.
(Amir dan Alsegaf, 1989)

III.             ANATOMI FISIOLOGI PARU
2-8b
(Sumber: www.google.com)

Pernapasan adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen kedalam tubuh serta menghembuskan udara yang banyak mengandung CO2 sebagai sisadari oksidasi keluar dari tubuh.
Fungsi dari sistem pernapasan adalah untuk mengambil O2 yang kemudian dibawa oleh darah ke seluruh tubuh untuk mengadakan pembakaran,mengeluarkan CO2 hasil dari metabolisme .
a.       Hidung
Saluran udara yang pertama yang mempunyai dua lubang dipisahkan olehsekat septum nasi. Di dalamnya terdapat bulu-bulu untuk menyaring udara, debu dankotoran. Selain itu terdapat juga konka nasalis inferior, konka nasalis posterior dan konkanasalis media yang berfungsi untuk mengahangatkan udara.
b.      Faring
Tempat persimpangan antara jalan pernapasan dan jalan makanan. Terdapat dibawah dasar pernapasan, di belakang rongga hidung, dan mulut sebelah depan ruas tulangleher. Di bawah selaput lendir terdapat jaringan ikat, juga di beberapa tempat terdapatfolikel getah bening.

c.       Laring
Saluran udara dan bertindak sebelum sebagai pembentuk suara. Terletak didepan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk ke dalam trakea dibawahnya. Laring dilapisi oleh selaput lendir, kecuali pita suara dan bagian epiglottisyang dilapisi oleh sel epitelium berlapis.
d.      Trakea
Lanjutan dari laring yang dibentuk oleh 16 – 20 cincin yang terdiri dari tulangrawan yang berbentuk seperti tapal kuda yang berfungsi untuk mempertahankan jalannapas agar tetap terbuka. Sebelah dalam diliputi oleh selaput lendir yang berbulu getar yang disebut sel bersilia, yang berfungsi untuk mengeluarkan benda asing yang masuk bersama-sama dengan udara pernapasan
e.       Bronkus
Lanjutan dari trakea, ada 2 buah yang terdapat pada ketinggian vertebrathorakalis IV dan V. mempunyai struktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis selyang sama. Bronkus kanan lebih besar dan lebih pendek daripada bronkus kiri, terdiridari 6 – 8 cincin dan mempunyai 3 cabang. Bronkus kiri terdiri dari 9 – 12 cincin danmempunyai 2 cabang. Cabang bronkus yang lebih kecil dinamakan bronkiolus, disiniterdapat cincin dan terdapat gelembung paru yang disebut alveolli.
f.       Paru-paru
Alat tubuh yang sebagian besar dari terdiri dari gelembung-gelembung. Disinilah tempat terjadinya pertukaran gas, O2 masuk ke dalam darah dan CO2 dikeluarkandari darah.

IV.             PATOFISIOLOGI

Masuknya kuman tuberkulosis ke dalam tubuh tidak selalu menimbulkan penyakit. Infeksi dipengaruhi oleh virulensi dan banyaknya basil tuberkulosis serta daya tahan tubuh manusia. Sekitar 2 sampai 10 minggu (6-8 minggu) setelah menghirup basil tuberkulosis hidup di dalam paru-paru, maka terjadi eksudasi dan konsolidasi yang terbatas disebut fokus primer. Basil tuberkulosis akan menyebar, histosit mulai mengangkut organisme tersebut ke kelenjar limfe regional melalui saluran getah bening menuju kelenjar getah bening regional sehingga terbentuk kompleks primer dan mengadakan reaksi eksudasi.
Pada anak yang mengalami lesi, dalam paru dapat terjadi dimanapun terutama di perifer dekat pleura, tetapi lebih banyak terjadi di Lapangan bawah paru dibanding dengan lapangan atas. Juga terdapat pembesaran kelenjar regional serta penyebarannya lebih banyak terjadi melalui hematogen. Pada reaksi radang dimana leukosit polimorfonukleat tampak pada alveoli dan memfagosit bakteri namun tidak membunuhnya. Kemudian basil menyebar ke limfe dan sirkulasi. Dalam beberapa minggu limfosit T menjadi sensitif terhadap organisme TBC dan membebaskan limfokim yang merubah makrofag atau mengaktifkan makrofag. Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia akut. Pneumonia seluler ini dapat sembuh dengan sendirinya, sehingga tidak ada sisa nekrosis yang tertinggal, atau proses dapat berjalan terus dan bakteri terus difagosit atau berkembang biak dalam sel. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu sehingga membentuk sel tuberkel epiteloid yang dikelilingi oleh limfosit. Nekrosis pada bagian sentral memberikan gambaran yang relatif padat pada tubuh, yang disebut nekrosis kasiosa.
Terdapat tiga macam penyebaran secara patogen pada tuberkulosis anak :
a.       Penyebaran Hematogen tersembunyi yang kemudian mungkin menimbul gejala atau tanpa gejala klinis.
b.      Penyebaran milier, biasanya terjadi sekaligus dan menimbulkan gejala akut, kadang-kadang kronis,
c.       Penyeberan hematogen berulang.

V.                MANIFESTASI KLINIS
·           Batuk berdahak, atau berdarah. > 3 minggu.
·           Sesak nafas dan nyeri dada
·           Badan lemah
·           Demam meriang lebih dari sebulan.
·           Berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan
·           Nafsu makan menurun
·           Berat badan menurun

VI.             PEMERIKSAAN PENUNJANG
Permulaan tuberkulosis sukar diketahui karena gejalanya tidak jelas dan tidak khas,tetapi kalau terdapat panas yang naik turun dan lama dengan atau tanpa batuk dan pilek, anoreksia, penurunan berat badan dan anak lesu, harus dipikirkan kemungkinan tuberkulosis. Petunjuk lain umtuk diagnosis tuberkulosis ialah adanya kontak dengan penderita tuberkulosis orang dewasa. Diagnosis tuberkulosis paru berdasarkan gambaran klinis, uji tuberkulin positif dan kelainan radiologis paru. Basil tuberkulosis tidak selalu dapat ditemukan pada anak
1.      Uji Tuberkulin
Pemeriksaan ini merupakan alat diagnosis yang penting dalam menegakkan diagnosis tuberkulosis.uji tuberkulin lebih penting lagi artinya pada anak kecil bila diketahui adanya komversi dari negatif (recent tuberculin converter).pada anak dibawah umur lima tahun dengan uji  tuberkulin positif,proses tuberkulosis biasanya masih aktifmeskipun tidak menunjukkan kelainan klinis dan radiologis, demikian pula halnya jika terdapat konfersi  uji tuberkulin. Uji tuberkulin dilakukan berdasarkan timbulnya hipersensitivitas terhadap tuberkulo protein karena adanya infeksi
Ada beberapa cara melakukan uji tuberkulin yaitu cara moro dengan salep, dengan goresan disebut patch test cara von pirquet, cara mantoux dengan penyuntikan intrakutan dan  “multiple puncture method “ dengan empat-enam jarum berdasarkan cara Heaf dan tine. Sampai sekarang cara mantoux masih dianggap sebagai cara yang paling dapat dipertanggungjawabkan karena jumlah tuberkulin yang dimasukkan dapat diketahui banyaknya. Reaksi lokal yang terdapat pada mantoux terdiri atas: Eritema karena vasodilatasi primer, Edema karena reaksi antara antigen yang disuntikkan dengan antibody dan indurasi yang dibentuk oleh sel mononukleus
Pembacaan uji tuberkulin dilakukan 48-72 jam setelah penyuntikan dan diukur diameter melintang dari indurasi yang terjadi. Tuberkulin yang biasanya dipakai ialah Old Tuberculin (OT) dan purified protein Derivative tuberculin (PPD).
2.      Pemeriksaan Radiologis
. Secara rutin dilakukan fotorontgen paru dan atas indikasi juga dibuat fotorontgen alat tubuh lain,misalnya foto tulang punggung pada spondilitis. Gambaran radiologis paru yang biasanya dijumpai pada tuberkulosis paru ialah :
1.      Kompleks primer dengan atau tanpa perkapuran
2.      pembesaran kelenjar paratrakeal
3.      Penyebaran milier
4.      Atelektasis
5.      Pleuritis dengan efusi.
Pemeriksaan radiologis paru saja tidak dapat digunakan untuk membuat diagnosis tuberkulosis,tetapi harus disertai data klinis lainnya

3.      Pemeriksaan Bakteriologis
Penemuan basil tuberkulosis memastikan diagnosis tuberkulosis, tetapi tidak ditemukannya basil tuberkulosis bukan berarti tidak menderita tuberkulosis. Bahan-bahan yang digunakan untuk pemeriksaan bakteriologis ialah:
a.       Bilasan lambung
b.      Sekret bronkus
c.       Sputum pada anak besar
d.      Cairan pleura
e.       Likuor serebrospinalis
f.       Cairan asites
g.      Bahan-bahan lainnya



4.   Uji Laboratorium
LED meninggi, sering tinggi sekali. Mungkin liositosis, monositosis, anemia, leukositosis ringan, bila ditemui hasil demikian (bila tidak ada faktor lain) akan menyokong diagnosis. Gambaran darah normal tidak menyingkirkan TBC. Gambaran darah tepi dan laju endap darah hanya mempunyai korelasi dengan aktivitas penyakit. Pemeriksaan cairan spinal dilakukan atas indikasi kecurigaan meningitis dan pada setiap TBC milier.
VII.          PENATALAKSANAAN
A. Pemberian terapi pada tuberculosis didasarkan pada 3 karakteristik basil,yaitu:
a.    Basil yang berkembang cepat ditempat yang kaya akan oksigen.
b.   Basil yang hidup di tempat yang kurang oksigen berkembang lambat dan dorman (tidur/berdiam di paru) hingga beberapa tahun.
c.    Basil yang mengalami mutasi sehingga resisten terhadap obat.
Þ           Isonized (INH) bekerja sebagai bakterisidal terhadap basil yang tumbuh aktif, diberikan selama 12-18 bulan, dosis 10-20 mg/kgBB/hari melalui oral. Selanjutnya kombinasi antara INH dan pyrazinamid (PZA) diberikan selama 6 bulan. Selama 2 bulan pertama obat diberikan setiap hari, selanjutnya obat diberikan dua kali dalam 1 minggu.
Þ           Pada TB berat dan ekstrapulmonal biasanya pengobatan dimulai dengan kombinasi 4-5 obat selama 2 bulan (ditambah Ethambutol dan streptomisin), dilanjutkan dengan INH dan Rifampisin selama 4-10 bulan sesuai perkembangan klinis. Pada meningitis TB, perikarditis, TB milier, dan efusi pleura diberikan kortikosteroid yaitu prednison 1-2 mg/kgBB/hari selama 2 minggu, diturunkan perlahan (tapering off) sampai 2-6 minggu bersamaan dengan pemberian obat anti tuberkulosis. Obat tambahan antara lain streptomycin (diberikan intramuscular) dan ethambutol.

B.            Selain itu juga, kita jangan melupakan terapi pemberian nutrisi yang adekuat, untuk menjaga daya tahan tubuh klien agar tidak terjadi penyebaran infeksi ke organ tubuh yang lainnya. Ada juga terapi pembedahan. Terapi ini dilakukan jika kemoterapi tidak berhasil. Dilakukan dengan mengangkat jaringan paru yang rusak, tindakan ortopedi untuk memperbaiki kelainan tulang, bronkoskopi untuk mengangkat polip granulornatosa tuberkulosis untuk jaringan paru yang rusak. Pencegahan adalah dengan menghindari kontak dengan orang yang terinfeksi basil tuberculosis, mempertahankan status kesehatan dengan intake nutrisi yang adekuat, meminum susu yang sudah dilakukan pasteurisasi, isolasi jika pada analisa sputum terdapat bakteri hingga dilakukan kemoterapi, pemberian imunisasi BCG untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi oleh basil tuberculosis virulen.































III.TINJAUAN KAUS
FORMAT PENGKAJIAN
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

A.    Pengkajian Keperawatan
Tanggal Pengkajian           : 17 April 2012.

1.      Data dasar Keluarga.
a.       Nama Kepala Keluarga ( KK ) : Bp. M
Umur : 58 tahun
Agama : Islam
Suku : Betawi
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Penganguran
Alamat : Jl. Cililitan Kecil no. 20  RT 03/ RW 007.

b.       Komposisi Keluarga
No
Nama
Hubungan Keluarga
L/P
Usia
Pendidikan
Pekerjaan
1.
Bp. M
Suami/KK
L
58
SMA
_
2.
Ibu. S
Istri
P
53
SD
IRT/Berdagang
3.
Na. K
Anak
P
23
SMK
Karyawan
4.
An. H
Anak
L
11
SD
Pelajar

c.      
Sakit
 
Genogram




















 
                                                                                                                                                                                                                               


 




                                                               
                                                58 th                                                                                                      53 th


 



                                                                                                                                               


 
KETERANGAN:
                        :Laki-laki


 
                        :Perempuan








 
                        :Pasien






 
                        :Menikah


 
                        :Keturunan


 
                        :Tinggal serumah
:Meninggal



d.        Tipe Keluarga
Keluarga Bp. M adalah keluarga dengan tipe nuclear family, dimana dalam keluarga hanya terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak.

e.         Suku Bangsa
Latar belakang budaya keluarga Bp. M adalah suku Betawi, bahasa yang di gunakan sehari-hari bahasa Betawi.Hubungan keluarga dengan lingkungan ramah dan mau bersosialisasi, budaya yang ada di lingkungan rata – rata dari etnis Betawi.Keluarga mempunyai kebiasaan makan sendiri-sendiri dan ibu.S yang menyiapkan makanan di rumah. Pantangan makan menurut budaya yang dianut tidak ada. Dekorasi rumah peralatan rumah tangga disusun  rapi.Kebiasaan keluarga di pengaruhi oleh budaya betawi, memanfaatkan fasilitas kesehatan yang sudah ada seperti klinik dan puskesmas,dapat di jangkau dengan menggunakan kendaraan umum atau sepeda motor.

f.         Agama
Keluarga menganut agama Islam. Ketaatan menjalankan ibadah kewajiban sholat lima waktu yang dilakukan di rumah dan setiap hari Jumat Bp. M dan An.H sholat di masjid.


g.    Status Sosial Ekonomi Keluarga
Penghasilan/bulan 500.000,00 s/d Rp. 800.000,00. Di keluarga Bp. M yang mencari nafkah dan mengelola keuangan adalah ibu.S dengan berdagang dibagian depan rumah.Keluarga Bp.M tidak mempunyai tabungan, biasanya jika ada pengeluaran berlebih,Bp.M meminjam pada anak-anaknya yang sudah bekerja.

h.    Aktifitas Rekreasi Keluarga.
Keluarga Bp. M  tidak pernah mengisi waktu libur dengan berekreasi ke luar kota dengan alasan berhemat,saat libur biasanya menonton TV dirumah saja.

i.     Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga
Ibu S mengatakan tumbuh kembang anak-anaknya dapat terpenuhi dengan baik,kecuali anak keenamnya ibu S mengatakan kurang begitu diperhatikan karena ia sibuk bekerja.An.H pun masih tidur bersama orangtuanya karena kondisi rumah yang tidak memungkinkan untuk ditambah kamar lagi.Jika ada masalah anak-anaknya selalu meminta nasehat dari Bpk.M dan Ibu S.Oleh karena itu setiap ada masalah selalu didiskusikan bersama keluarga.

j.     Tahap Perkembangan Keluarga yang belum terpenuhi
Ibu S mengatakan anak bungsunya yaitu An.H yang berumur 11 tahun masih tidur sekamar dengannya dan suaminya,karena kondisi rumah yang tidak memungkinkan untuk ditambah kamar lagi.Ibu S pun harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya.

k.    Riwayat Keluarga Inti
Bpk.M mengatakan pernikahan dengan istrinya adalah pilihannya sendiri tanpa perjodohan, dan direstui oleh orangtuanya serta orangtua istrinya.Selama pernikahan jika ada masalah keluarga,Bpk.M dan Ibu S selalu meminta nasehat kepada orangtuanya.Jika ada salah satu anggota keluarga yang sakit, Ibu S membeli obat warung atau berobat ke puskesmas atau rumah sakit.

l.     Riwayat keluarga sebelumnya
Orang tua Bp.M ataupun istrinya tidak punya kebiasaan kawin cerai,berjudi dan minum alkohol. Kebiasaan yang ditanamkan kepada keluarga adalah ketaatan menjalankan ibadah sholat lima waktu.Sebelum meninggal ayah ibu.S pernah menderita hipertensi.
                                   
2.        Lingkungan.
a.          Perumahan
Kepemilikan rumah atas nama Ibu.S,dengan luas bangunan rumah 6 x 1,5 meter,rumah terdiri dari dua lantai.Di lantai I pencahayaan dan ventilasi sangat kurang, kamar hanya dibatasi dengan tirai,lantai dari keramik.Dilantai II ventilasi dan pencahayaan sudah baik,terdapat satu jendela dan dua ventilasi, ada tempat tidur.Sumber penerangan dari cahaya matahari dan lampu.

b.            
Lantai I
 
Denah Rumah.










 

























6 m
 
 










c.              Pengelolaan Sampah.
Sampah biasanya dikumpulkan kemudian dibakar atau dibuang ke pembuangan sampah diantara RT 02 dan 03.

d.             Sumber air
Sumber air yang  digunakan untuk minum dan masak adalah air mineral, dan air sumur untuk keperluan selain minum dan masak.air tidak berasa,tidak berwarna dan tidak berbau.

e.              Jamban Keluarga
Keluarga Bp.M mempunyai WC sendiri didalam rumah,jarak dengan sumur kurang dari 10 meter.

f.              Pembuangan air limbah
Pembuangan air limbah rumah tangga di got, aliran got menjadi tidak lancar karena banyak tumpukan sampah.

g.             Fasilitas Sosial dan fasilitas Kesehatan.
Bp.M dan keluarganya selalu memanfaatkan fasilitas sosial dan fasilitas kesehatan,seperti sholat ke mushola,dan jika ada keluhan mengenai kesehatannya biasanya pergi ke Rumah sakit atau Puskesmas.

h.             Karakteristik Tetangga dan Komunitas
Lingkungan rumah Bp.M mayoritas adalah etnis betawi, lingkungan rumah dibuat per blok. Rumah anak tertua Bp.M berada satu blok dari rumahnya,mayoritas  keluarga di lingkungan ini  masih berstatus hubungan keluarga,ada beberapa keluarga yang rumahnya dikontrak.Pekerjaan sebagian besar keluarga dilingkungan rumah Bp.M adalah sebagai pedagang dan pegawai.Tidak ada angkutan umum seperti mobil karena jalan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki atau sepeda motor.Sarana umum yang sering digunakan bersama adalah mushola.

i.               Mobilisasi Geografis Keluarga.
Keluarga Bp.M sempat dua kali pindah sebelum menetap dirumahnya saat ini. Pada tahun 1994 Bp.M menjual rumahnya yang pertama jaraknya tidak jauh dari rumah sekarang, dengan alasan untuk biaya pengobatan penyakitnya.Kurang lebih 2 tahun yang lalu keluarga Bp.M pindah dikampung kelahirannya di Jawa Barat.Kemudian kembali lagi sampai akhirnya menetap dirumahnya sekarang.

j.               Perkumpulan Keluarga Interaksi dengan Masyarakat.
 Bpk.M dan Ibu S dikenal ramah dilingkungan sekitar rumahnya.Bpk.M mengatakan ia selalu mengikuti kegiatan agama seperti sholat jumat dll.Ibu S mengatakan tidak pernah lagi mengikuti arisan rumah tangga dan pengajian karena sibuk,dan tidak punya banyak waktu.



k.             Sistim Pendukung Keluarga
Bpk.M mengatakan jika ada kebutuhan dengan pengeluaran berlebih,anak pertamanya selalu membantu.Dan jika ada masalah diantara anak-anaknya Bpk.M dan Ibu S  selalu menjadi penengah.

3.             Struktur Keluarga.
a.              Pola komunikasi keluarga.
Dalam mengatasi masalah biasanya Bpk.M mendiskusikannya dengan istri.Bpk.M pun mengajarkan kepada anak-anaknya jika ada masalah apapun harus didiskusikan dengan keluarga.Bahasa yang digunakan adalah bahasa betawi dan bahasa indonesia.
Hubungan antara Bpk.M,istri dan anak-anaknya terjalin baik,anak-anak selalu bersikap hormat. Jika ada masalah anak-anak selalu meminta nasehat kepada Bpk.M dan istrinya.

b.             Struktur Kekuatan Keluarga.
Yang mengambil keputusan dalam keluarga adalah Bpk.M sebagai kepala keluarga dan atas persetujuan istrinya.Dalam keluarga semua anggota keluarga saling menguatkan dalam menghadapi atau mengatasi setap permasalahan.

c.    Struktur Peran.
Bpk.M sebagai kepala keluarga dan pengambil keputusan serta menjadi panutan  dalam keluarga.Ibu S sebagai ibu rumah tangga dan merawat semua anggota keluarganya serta mencari nafkah dengan berdagang.Dan An.H sebagai anak yang menjalankan tugasnya sebagai pelajar.Na.K sebagai anak dan kakak yang menjaga adiknya.Dalam menjalankan peran ada kesenjangan karena istri yang mencari nafkah keluarga.

d.             Nilai dan Norma Budaya.
Nilai dan norma budaya yang diyakini dan dijalankan dalam keluarga adalah nilai dan norma yang sesuai serta tidak bertentangan dengan ajaran agama islam.Bpk.M dan An.H setiap hari jumat selalu menjalankan ibadah sholat jumat.Bpk.M mengharapkan agar anak-anaknya menjadi anak yang taat beribadah.Dikeluarga diterapkan hidup bersih seperti mencuci tangan.




4.     Fungsi Keluarga.
a.              Fungsi Afektif.
Semua anggota keluarga Bpk.M saling menyayangi satu sam lain.Apabila ada yang menderita sakit mereka saling membantu.Dalam keluarganya Ibu S selalu mengajarkan rasa saling menyayangi kepada anak-anaknya.
b.             Fungsi Sosialisasi.
Ibu S mengatakan hubungannya dengan lingkungan sekitarnya baik-baik saja,tidak pernah ada masalah yang terjadi.Bpk.M selalu mendidik anak-anaknya untuk bersosialisasi dengan orang lain. Seperti An. H dibiasakan untuk bermain bersama teman-teman sebayanya.

c.              Fungsi Reproduksi.
Ibu S mengatakan sejak anak pertama lahir sampai anaknya yang keenam ia tidak pernah menggunakan alat kontrasepsi,dengan alasan tidak nyaman .Semua anak-anaknya dilahirkan secara normal,dan dibantu oleh bidan.

5.        Sterss dan koping keluarga.
a.              Stresor jangka pendek dan jangka panjang.
Bpk.M mengatakan sangat sedih karena tidak bisa menjadi tulang punggung keluarga.Ibu S mengatakan ia merasa kasihan kepada anaknya karena masih tidur satu kamar dengan orangtua.

b.             Kemampuan keluarga dalam berespon terhadap masalah.
Dalam mengatasi masalah biasanya dalam keluarga didiskusikan bersama.Anak-anak Bpk.M yang sudah berkeluarga selalu meminta nasehat jika ada masalah dalam keluarga mereka.

c.              Strategi Koping yang di gunakan.
Strategi koping yang digunakan dengan cara mendiskusikan masalahnya bersama.
d.             Strategi adaptasi yang disfungsional
Selama melakukan pengkajian tidak ditemukan adanya cara-cara keluarga mengatasi masalah secara mal adaptif dalam keluarga.

e.              Pemeriksaan Fisik.

Daerah pemeriksaan fisik
Nama Anggota Keluarga
Bpk.M
Ibu S
Na.K
An.H


Keadaan umum
Lemah
Baik
Baik
Baik


Kesadaran
Composmentis
Composmentis
Composmentis
Composmentis


TB – BB
170cm/64kg
160cm/57kg
160cm/53kg
135cm/36kg


Tanda vital
Tekanan darah
Nadi
Suhu
Respirasi
TD:110/80
mmHg
N:65x/menit
S:36,7°c
RR:22x/menit
TD:130/90
mmHg
N:80x/menit
S:36,5°c
RR:20x/menit
TD:120/80
mmHg
N:82x/menit
S:36,8°c
RR:18x/menit

TD:110/80
mmHg
N:88x/menit
S:37,2°c




Kepala- rambut
Tidak ada nodul, bersih. rambut tipis dan beruban.
Tidak ada nodul, bersih, rambut lebat dan beruban.
Tidak ada nodul, bersih, rambut lebat berwarna hitam.
Tidak ada nodul, bersih, rambut lebat dan berwarna hitam.


Mata
Anemis
Tidak anemis
Tidak anemis
Tidak anemis


Hidung
Tidak bersekret
Tidak bersekret
Tidak bersekret
Tidak bersekret


Telinga
TAK,dan tidak ada serumen
TAK,dan tidak ada serumen
TAK,dan tidak ada serumen
TAK,dan tidak ada serumen


Mulut
Mukosa lembab,TAK

Mukosa lembab,TAK

Mukosa lembab,TAK

Mukosa lembab TAK
Gigi tidak lengkap.


Leher
Tak ada pembesaran  tiroid
Tak ada pembesaran tiroid
Tak ada pembesaran tiroid
Tak ada pembesaran tiroid


Dada
Bunyi paru mengi.
Bunyi jantung dan paru normal
Bunyi jantung dan paru normal
Bunyi jantung dan paru normal


Abdomen
TAK
TAK
TAK
TAK


Genital
TAK
TAK
TAK
TAK


Ekstremitas atas
TAK
TAK
TAK
TAK


Ekstremitas bawah
TAK
TAK
TAK
TAK













6.        Harapan keluarga terhadap Asuhan keperawatan Keluarga.
Keluarga menyatakan sangat senang dengan kehadiran mahasiswa dan berharap sangat membantu keluarga mencegah penyakit pada keluarga.

7.        Fungsi Perawatan Kesehatan (Penjajakan Tahap II)
Bpk.M mengatakan ia kadang batuk-batuk,mudah lelah,dan sesak serta berkeringat pada malam hari. Bpk.M hanya membeli obat warung untuk mengatasinya. Ia mengatakan pernah berobat ke puskesmas dan menjalani perawatan TB 6 bulan secara tuntas. Pada saat pengkajian Bpk.M tampak lelah dan bunyi nafasnya ronkhi. Ibu S mengatakan jika ada anggota keluarganya yang sakit ia membelikan obat warung jika tidak kunjung sembuh ia membawanya ke Rs atau puskesmas terdekat.





  1. ANALISA DATA
NO
DATA
ETIOLOGI
MASALAH
1.












  DS:
Bpk.M mengatakan ia kadang batuk-batuk,mudah lelah,dan sesak serta berkeringat pada malam hari.
DO:
-          Kesadaran komposmentis
-          Keadaan umum  lemah
-          Bpk.M tampak lelah dan bunyi nafas ronkhi/mengi.
-          Konjungtiva anemis
-          N:65x/menit
-          RR:22x/menit
-          Tampak sesak
-          Retraksi otot dada


Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan

Pola napas tidak efektif pada Bpk.M.













Scoring prioritas masalah
  1. Pola napas tidak efektif  pada  Bpk. M berhubungan dengan  ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan.

No
Kriteria
Bobot
Perhitungan
Pembenaran
1.






2.






3.





4.
Sifat Masalah
Skala :
Potensial : 1
Resiko : 2
Aktual : 3


Kemungkinan masalah untuk di ubah
Mudah : 2
Sebagian : 1
Tidak dapat : 0

Potensi masalah untuk di cegah.
Tinggi : 3
Cukup : 2
Rendah : 1

Menonjolnya masalah:
segera di tangani: 2
Masalah yang ada tapi tidak perlu segera di tangani : 1
Masalah tidak di rasakan : 0

Jumlah
1






2






1





1








5
Aktual
3/3x1=1





Sebagian
1/2x2=1





Cukup
2/3x1=0,666



2/2x1=1









Total= 3 1/6
Batuk,mudah lelah,dan sesak serta berkeringat pada malam hari,dengan tanda dan gejala penyakit TB,sudah pernah melakukan perawatan 6 bulan,jika tidak segera ditangani resiko terjadi penyakit berulang.

Ibu S mengatakan jika ada anggota keluarganya yang sakit ia membelikan obat warung jika tidak kunjung sembuh ia membawanya ke Rs atau puskesmas terdekat.

Masalah masih dapat dicegah agar tidak berlanjut,mengingat TB merupakan penyakit menular yang bisa disembuhkan dengan pengobatan teratur.


Masalah penyakit TB pada Bpk.M dirasakan betul oleh keluarga dan keluarga ingin masalah tersebut segera diatasi.






  1. DIAGNOSA KEPERAWATAN PRIORITAS
1.             Pola napas tidak efektif  pada  Bpk. M berhubungan dengan  ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan.


  1. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA Pada Bpk.M
No.
Diagnosa Keperawatan
Tujuan
Kriteria evaluasi
Rencana intervensi
Umum
Khusus
Kriteria                                    standart
1.
Pola napas tidak efektif  pada  Bpk.M berhubungan dengan Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan
Setelah dilakukan kunjungan diharapkan keluarga dapat mengenal masalah  TB paru.
TUK 1
Selama 1 x 60 menit  kunjungan,keluarga mampu mengenal masalah TB paru pada anggota keluarga
Dengan cara:

1.1 Menyebutkan pengertian, penyebab, serta Tanda dan gejala  TB paru






Respon verbal





1. TB paru adalah penyakit infeksi yang menular dan
2. Disebabkan oleh kuman TB (micobakterium tuberculosa)
Menyebutkan 4 dari 6 tanda gejala TB paru:
-     Batuk berdahak selama 2 minggu
-     Demam lebih dari 1 bulan
-     Nafsu makan berkurang
-  Berat badan turun
-  Rasa nyeri dada atau sesak napas
1.1.1        Kaji pemahaman keluarga mengenai pengertian,penyebab, tanda dan gejala  TB paru
1.1.2        Diskusikan bersama keluarga tentang pengertian, penyebab, tanda dan gejala TB paru
1.1.3        Tanyakan/sebutkan  kembali pada keluarga tentang penngertian, penyebab, tanda dan gejala Tb paru
1.1.4        Berikan reinforcement pada keluarga atas jawaban yang tepat.
No
Diagnosa Keperawatan
Tujuan
Kriteria Evaluasi
Rencana intervensi
Umum
Khusus
Kriteria
Standart



TUK 2:
Setelah 1 x 60 mnt kunjungan keluarga mengambil keputusan untuk merawat anggota keluarga yang menderitas TB paru

2.1        Menyebutkan akibat lanjut TB paru jika tidak diobati secara teratur









Respon verbal

Menyebutkan 3 dari 5 akibat lanjut dari TB paru yang tidak diobati secara teratur
1. Batuk darah
2. kerusakan jarinngan paru
3. Tubuh akan resisten/kebal terhadap obat yang pernah diberikan
4. Batuk akan kambuh lagi
5. Kematian
2.1.1 Kaji pemahaman keluarga tentang akibat lanjut bila TB paru tidak diobati secara teratur
2.1.2 Jelaskan pada keluarga akibat lanjut apabila TB paru tidak diobati (menggunakan lembar balik).
2.1.3  Motivasi keluarga untuk menyebutkan kembali akibat lanjut dari TB paru yang tidak diobati
2.1.4Beri reinforcement positif atas jawaban keluarga yang tepat 











No
Diagnosa Keperawatan
Tujuan
Kriteria Evaluasi
Rencana intervensi


Umum
Khusus
Kriteria
Standart



2.2    Memutuskan untuk merawat Bpk.M dengan masalah TB paru
Respon verbal
Keluarga memutuskan untuk merawat anggota keluarga dengan TB paru
2.2.1   Diskusikan kembali dengan keluarga tentang keinginan keluarga untuk merawat anggota keluarga dengan TB paru
2.2.2   Beri reinforcement posistif atas jawaban keluarga yang tepat.



2.3    Mengungkapkan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang TB paru
Respon verbal dan Afektif
Pengakuan keluarga bahwa keluarga mau merawat anggota keluarga dengan TB paru
2.3.1 Dorong atau eksplorasi pengambilan keputusan keluarga merawat anggota keluarga dengan TB paru
2.3.2 Beri reinforcement positif atas keputusan keluarga untuk merawat anggota keluarga dengan TB paru



No
Diagnosa Keperawatan
Tujuan
Kriteria Evaluasi
Rencana intervensi


Umum
Khusus
Kriteria
Standart



TUK 3:
Setelah 1x 60 mnt kunjungan keluarga mampu merawat anggota keluarga dengan TB paru

3.1    Menyebutkan pencegahan TB paru di rumah 






Respon Verbal

Menyebutkan 4 dari 7 pencegahan TB paru
1. Menutup mulut bila batuk
2. Membuang ludah / dahak pada wadah tertutup yang tersedia dan sudah diisi cairan Lysol/pasir
3. Memeriksakan anggota keluarga lainnya apakah ada penularan tuberculose
4. Makan makanan bergizi
5. Menjemur kasur secara teratur dan Memisahkan alat makan dan minum pasien
7. untuk bayi diberikan imunisasi BCG   


3.1.1 Kaji pemahaman keluarga tentang cara pencegahan TB paru
3.1.2 Diskusikan dengan keluarga tentang cara pencegahan TB paru
3.1.3 Motivasi keluarga untuk menyebutkan cara pencegahan TB paru
3.1.4 Beri reinforcement pada keluarga atas jawaban yang tepat



3.2  Melakukan cara membuang dahak pada wadah tertutup
Psikomotor
Keluarga dapat Mendemonstrasikan cara membuang dahak pada wadah terutup
-          Kaleng yang telah diisi dengan cairan Lysol atau pasir dan kalengnya ada tutpnya
3.2.1 Demonstrasikan pada keluarga cara pembuangan dahak/ludah pada wadah tertutup.
3.2.2 Beri kesempatan pada keluarga untuk mencoba cara membuang dahak/ludah pada wadah tertutup.
3.2.3 Beri reinforcement positif atas usaha keluarga
3.2.4Pastikan Keluarga akan melakukan tindakan yang diajarkan. 


















No
Diagnosa Keperawatan
Tujuan
Kriteria Evaluasi
Rencana intervensi


Umum
Khusus
Kriteria
Standart



TUK 4:
Setelah 1 x 60 mnt kunjungan keluarga mampu memodifikasi lingkungan dapat mencegah TB paru

4.1  Menyebutkan cara memodifikasi lingkungan untuk mencegah TB paru







Respon Verbal

Menyebutkan cara memodifikasi lingkungan untuk mencegah TB paru:
1. Mempunyai jendela atau ventilasi yang cukup dan membuka jendela
4.1.1 Kaji pemahaman keluarga mengenai lingkungan yang dapat mencegah TB
4.1.2 Menjelaskan Lingkungan yang dapat mencegah TB
4.1.3 Memotivasi keluarga untuk mengulangi penjelasan yang diberikan
4.1.4 Berikan Reinforcement posistif atas jawaban keluarga



4.2  Melakukan modifikasi lingkungan yang tepat pada Bpk.M
Respon verbal
Pada kunjungan tak terduga keluarga melakukan tindakan modifikasi lingkungan
4.2.1 Observasi lingkungan rumah pada kunjungan  dengan tidak terencana
4.2.2 Diskusikan dengan keluarga hal positif yang sudah dilakukan keluarga
4.2.3 Beri reinforcement positif atas upaya yang dilakukan keluarga



TUK 5:
Setelah 1 x 60 mnt kunjungan keluarga mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada
5.1  Menyebutkan kembali manfaat kunjungan ke pelayanan kesehatan




Respon Verbal



Manfaat kunjungan ke fasilitas kesehatan:
1. Mendapatkan pelayanan kesehatan pengobatan TB paru
2. Mendapatkan pendidikan kesehatan tentang TB paru
5.1.1 Informasikan mengenai pengobatan dan pendidikan kesehatan yang dapat diperoleh keluarga di klinik / balai pengobatan puskesmas
5.1.2 Motivasi keluarga untuk menyebutkan kembali hasil diskusi
5.1.3 Beri Reinforcement positif atas hasil yang dicapai keluarga



5.2  Memanfaatkan pelayanan kesehatan dalam merawat TB paru
Respon Verbal
-       Keluarga membawa anggota keluarga dengan TB paru apabila batuk batuk > 2 minggu, dahak bercampur darah, sesak napas.
-          Adanya kartu berobat
5.2.1 Motivasi keluarga untuk membawa Bpk.M  apabila kondisinya tidak bisa ditangani dirumah
5.2.2 Temani keluarga ke RS/ puskesmas jika diperlukan
5.2.3 Berikan reinforcement positif untuk hasil yang dicapai


D.     PELAKSANAAN TINDAKAN (IMPLEMENTASI) dan Evaluasi
No
Diagnosa Keperawatan
Waktu
Implementasi
Paraf 
Evaluasi
Paraf
1.
Pola napas tidak efektif  pada  Bpk. M berhubungan dengan  ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan.

Tanggal 17 April 2012

Pukul:
09.00

TUK 1
1.    Mengkaji pemahaman keluarga mengenai pengertian, penyebab, tanda dan gejala  TB paru
Respon : Klien dan keluarga mengatakan bahwa tidak mengetahui tentang pengertian TB dan tanda nya demam, batuk berdahak, BB turun
2.    Mendiskusikan bersama keluarga tentang pengertian, penyebab, tanda dan gejala
Respon:Klien dan keluarga memperhatikan, menyimak  dan mengangguk saat perawat memberikan penyuluhan mengenai pengertian,penyebab, tanda dan gejala  TB paru
3.    Menanyakan kembali pada keluarga tentang pengertian, penyebab, tanda dan gejala  TB paru
Respon: Klien dan keluarga mengatakan bahwa TB paru adalah penyakit di paru- paru akibat dari kuman Tuberculose dan tanda nya demam, batuk berdahak, BB turun, tidak nafsu makan.

4.    Memerikan pujian tas jawaban yang diberikan
Respon           :Keluarga sangat senang karena dapat menjawab pertanyaan perawat.
EVI












Subyektif: 
§  Klien dan keluarga mengatakan bahwa tidak mengetahui tentang pengertian TB dan tanda nya demam, batuk berdahak, BB turun.
§  Klien dan keluarga menyebutkan penyebab TB yaitu kuman mycobacterium tuberculose
§  Klien dan keluarga menyebutkan 4 dari 6 tanda dan gejala TB yaitu: demam, batuk berdahak, BB turun, tidak nafsu makan.
§  Keluarga  sangat senang karena dapat menjawab pertanyaan perawat

Obyektif :
§  Keluarga tampak kooperatif menjawab pertanyaan yang di ajukan.
§  Klien mampu menjelaskan kembali pengertian, penyebab, tanda dan gejala TB paru
§  Klien dan keluarga memperhatikan, menyimak dan mengangguk saat perawat memberikan penyuluhan mengenai pengertian, penyebab, tanda dan gejala TB paru

Analisa :
Tujuan tercapai, masalah teratasi
Planning :
Lanjutkan TUK 2 tentang keluarga dalam mengambil keputusan untuk merawat anggota keluarga dengan masalah TB paru



Tanggal
17 April 2012

Pukul:
09.00
TUK 2
1.    Mengkaji pemahaman keluarga tentang komplikasi  bila TB paru
Respon : Klien dan keluarga mengatakan belum tahu akibat lanjut bila TB tidak diobati / komplikasinya
2.    Menjelaskan pada keluarga akibat lanjut apabila TB paru /komplikasi (menggunakan lembar balik)
Respon :Klien dan Keluarga memperhatikan saat perawat menjelaskan tentang akibat lanjut bila TB /komplikasi
3.    Memotivasi keluarga untuk menyebutkan kembali akibat lanjut dari TB paru yang tidak diobati
Respon: Klien dan keluarga menyebutkan bahwa akibatnya adalah Batuk darah, kerusakan jaringan paru dan kematian
4.    Melibatkan anggota keluarga tentang keinginan keluarga untuk merawat anggota keluarga dengan TB paru
Respon: anggota keluarga akan merawat dan mendampingi Bpk.M dalam menjalani proses pengobatan
5.    Memberikan reinforcement positif atas jawaban keluarga yang tepat 
Respon            :Keluarga sangat senang karena dapat menjawab pertanyaan perawat.

Subjektif :
-      Klien dan keluarga mengatakan belum begitu tahu akibat atau dari tidak diobati secara teratur.
-      Klien dan keluarga mengatakan 3 dari 5 akibat dari tidak diobati secara teratur Batuk darah, kerusakan jaringan paru dan kematian.

-       Anggota keluarga akan merawat dan mendampingi Bpk.M dalam menjalani proses pengobatan

Objektif:
§  Klien tampak antusias mendengarkan penjelasan yang di berikan oleh perawat.
§  Klien dan keluarga menyebutkan 3 dari 5 akibat dari tidak diobati secara teratur Batuk darah, kerusakan jaringan paru dan kematian.
§  Keluarga memperhatikan saat perawat menjelaskan tentang komplikasi atau akibat dari tidak diobati secara teratur
§  Keluarga tampak sangat senang karena dapat menjawab pertanyaan perawat.
Analisa :
Tujuan tercapai, masalah teratasi.
Planning :
Lanjutkan TUK 3 tentang keluarga dapat merawat anggota keluarga dengan masalah TB paru





Tanggal 17 April 2012

Pukul:
09.00
TUK 3
1.      Mengkaji pemahaman keluarga tentang cara pencegahan TB paru
Respon : Klien dan Keluarga mengatakan cara pencegahan TB adalah dengan menutup mulut atau pakai masker
2.      Mendiskusikan dengan keluarga tentang cara pencegahan TB paru
Respon: Klien dan keluarga memperhatikan , mendengarkan dan mengangguk saat perawat menjelaskan tentang cara pencegahan TB paru
3.      Memotivasi keluarga untuk Menyebutkan cara pencegahan TB paru
Respon: Klien dan keluarga menyebutkan bahwa cara pencegahan TB adalah dengan cara menutup mulut saat berbicara. Buang dahak di tempat tertutup, makan-makanan yang bergizi, memisahkan alat makan dengan penderita, dan buka jendela / ventilasi
4.      Memberi reinforcement pada keluarga atas jawaban yang tepat
Respon: Keluarga sangat senang dapat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh perawat.
a.       Mendemonstrasikan pada keluarga cara pembuangan dahak/ludah pada wadah tertutup.
Respon : klien dan keluarga memperhatikan dan melihat cara pembuangan dahak/ludah pada wadah tertutup yang telah diisi Lysol/pasir
b.      Memberi kesempatan pada keluarga untuk mencoba cara membuang dahak/ludah pada wadah tertutup.
Respon: klien dan keluarga dapat melakukan pembuangan dahak/ludah pada tempat tertutup yang telah diisi Lysol.
c.       Memberi reinforcement positif atas usaha keluarga
Respon: klien dan keluarga senang dapat melakukan cara pembuangan dahak yang benar pada wadah tetutup

Subyektif:
§  Klien dan Keluarga mengatakan cara pencegahan TB adalah dengan menutup mulut/ pakai masker
§  Klien dan keluarga menyebutkan 5  dari 7 cara pencegahan TB yaitu  dengan cara menutup mulut saat berbicara. Buang dahak di tempat tertutup, makan-makanan yang bergizi, memisahkan alat makan dengan penderita, dan buka jendela / ventilasi
Obyektif
§  Klien dan keluarga memperhatikan , mendengarkan dan mengangguk saat perawat menjelaskan tentang cara pencegahan TB paru
§  Klien dan keluarga menyebutkan 5  dari 7 cara pencegahan TB yaitu  dengan cara menutup mulut saat berbicara. Buang dahak di tempat tertutup, makan-makanan yang bergizi, memisahkan alat makan dengan penderita, dan buka jendela / ventilasi

§  Keluarga sangat senang dapat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh perawat.
§  klien dan keluarga memperhatikan dan melihat cara pembuangan dahak/ludah pada wadah tertutup yang telah diisi Lysol/pasir
§  Klien dan keluarga dapat mepraktekkan cara  pembuangan dahak/ludah pada tempat tertutup yang telah diisi Lysol.
§  Klien dan keluarga senang dapat melakukan cara pembuangan dahak

Analisa :
Tujuan tercapai masalah teratasi

Planning:
Lanjutkan Intervensi ke TUK IV tentang keluarga mampu memodifikasi lingkungan yang dapat menunjang proses perawatan anggota keluarga dengan masalah TB paru




Tanggal 18 April 2012

Pukul:
10.00

TUK 4
1.      Mengkaji pemahaman keluarga mengenai lingkungan yang dapat mencegah TB
Respon: Keluarga mengatakan tidak mengetahui mengenai lingkungan mencegah TB paru
2.      Menjelaskan Lingkungan yang dapat mencegah TB
Respon: klien dan keluarga memperhatikan dan menyimak dengan seksama saat perawat menjelaskan tentang modifikasi lingkungan mencegah TB
3.      Memotivasi keluarga untuk mengulangi penjelasan yang diberikan
Respon: keluarga menyebutkan modifikasi lingkungan yaitu punya jendela dan ventilasi yang cukup, bebas debu, dan lantai tidak lembab

a.       Mengobservasi lingkungan rumah pada kunjungan  dengan tidak terencana
Respon: dalam kunjungan tak terduga kondisi rumah dalam kondisi bersih, lantai tidak lembab, jendela dan ventilasi dalam kondisi terbuka, namun masih terdapat debu di lemari dan kipas angin yang digunakan.

b.      Mendiskusikan dengan keluarga hal positif yang sudah dilakukan keluarga
Respon: keluarga mengatakan bahwa mereka sudah membuka jendela dan pintu di pagi hari, serta membersihkan lantai 2 kali sehari
c.       Memberikan Reinforcement posistif atas jawaban keluarga
Respon: keluarga senang dapat menjawab pertanyaan yang diberikan



Subyektif:
§  Keluarga mengatakan tidak mengetahui mengenai lingkungan mencegah TB paru
§  Keluarga menyebutkan modifikasi lingkungan yaitu punya jendela dan ventilasi yang cukup, bebas debu, dan lantai tidak lembab
keluarga senang dapat menjawab pertanyaan yang diberikan

·         Keluarga mengatakan bahwa mereka sudah membuka jendela dan pintu di pagi hari, serta membersihkan lantai 2 kali sehari
·         Keluarga senang dapat sedikit memodifikasi lingkungan untuk mencegah TB
Obyektif :
§  Klien dan keluarga memperhatikan dan menyimak dengan seksama saat perawat menjelaskan tentang modifikasi lingkungan
§  Keluarga menyebutkan modifikasi lingkungan yaitu punya jendela dan ventilasi yang cukup, bebas debu, dan lantai tidak lembab
dalam kunjungan tak terduga kondisi rumah dalam kondisi bersih, lantai tidak lembab, jendela dan ventilasi dalam kondisi terbuka, namun masih terdapat debu di lemari dan kipas angin yang digunakan.
§  Keluarga mengatakan bahwa mereka sudah membuka jendela dan pintu di pagi hari, serta membersihkan lantai 2 kali sehari

Analisa :
Tujuan Tercapai, Masalah Teratasi

Planning:
Lanjutkan ke TUK V tentang keluarga dapat memanfaatkan fasilitas kesehatan



Tanggal 18 April 2012

Pukul:
10.00
1.      Menginformasikan mengenai pengobatan dan pendidikan kesehatan yang dapat diperoleh keluarga di klinik / balai pengobatan puskesmas
Respon: keluarga memperhatikan dan mendengarkan saat perawat menjelaskan tentang manfaat menggunakan fasilitas kesehatan
2.      Memotivasi keluarga untuk menyebutkan kembali hasil diskusi
Respon: . keluarga Bpk. M menyebutkan manfaat datang ke fasilitas kesehatan Mendapatkan pelayanan kesehatan pengobatan TB paru, Mendapatkan pendidikan kesehatan tentang TB paru
3.      Menemani keluarga ke RS/ puskesmas jika diperlukan
Respon: keluarga Bpk.M akan secara tetarur memeriksakan dan mengontrolkan anaknya ke RS maksimal 1 bulan sekali
4.      Memberikan Reinforcement positif atas hasil yang dicapai keluarga
Respon: keluarga senang dapat menjawab pertanyaan dari perawat.


Subjektif:
§    Keluarga Bpk.M menyebutkan manfaat datang ke fasilitas kesehatan Mendapatkan pelayanan kesehatan pengobatan TB paru, Mendapatkan pendidikan kesehatan tentang TB paru

§    Keluarga Bpk.M akan secara tetarur memeriksakan dan mengontrolkan anaknya ke RS maksimal 1 bulan sekali
§    Keluarga senang dapat menjawab pertanyaan dari perawat
Obyektif:
§  Keluarga memperhatikan dan mendengarkan saat perawat menjelaskan tentang manfaat menggunakan fasilitas kesehatan
§  Keluarga Bpk.M menyebutkan manfaat datang ke fasilitas kesehatan Mendapatkan pelayanan kesehatan pengobatan TB paru, Mendapatkan pendidikan kesehatan tentang TB paru
Analisis:
Tujuan tercapai, masalah teratasi 
Planning:
TUK 5 di stop.


































BAB  IV
PEMBAHASAN

     Keluarga ini tergolong dalam nuclear family, karena di dalam satu rumah terdapat ayah, ibu dan anak. Biasanya penghasilan keluarga saya kurang lebih 500.000-800.000 ribu/bulan Jika kami dalam masalah keuangan biasanya saya minta tolong dengan anak saya.
Saat ini, keluarga Bpk. M berada dalam masa perkembangan anak  sekolah (usia anak 11 tahun). Dalam memberikan asuhan keperawatan pada keluarga Bpk. M mahasiswa menggunakan metode proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan tindakan dan evaluasi. Pengkajian dilakuakn dengan format pengkajian asuhan keperawatan keluarga yang telah disediakan oleh pendidikan sebagai bahan acua, namun dalam pelaksanaan terdapat beberapa modifikasi untuk mengembangkannya. Setelah dilakukan analisa dan scoring maka muncullah diagnosa keperawatan yaitu 
1.      Pola napas tidak efektif  pada  Bpk.M berhubungan dengan  ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan
Selama 2 minggu bersama keluarga Bpk. M  intervensi yang dilakukan pada keluarga seperti penyuluhan tentang TB paru dan nutrisi yang tidak adekuat (cukup) yang menggunakan media lembar balik dan leaflet. Selain penyuluhan, penulis juga mendemonstrasikan cara menjemur kasur /bantal dan menu Diet TKTP yang sesuai untuk Bpk.M serta membersihkan rumah.
Setelah dilakukan implementasi, penulis mengobservasi kembali ke keluarga dan ditemukan bahwa telah terjadi perubahan prilaku di keluarga Bpk. M, misalnya meningkatkan asupan Protein dari telur dan Susu serta  rajin menjemur kasur dan bantal.










BAB V
PENUTUP
A.      KESIMPULAN
   Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan
   Tuberculosis (TB) adalah penyakit akibat kuman mycobacterium tuberculosis sitemis sehingga dapat mengenai semua organ tubuh dengan lokasi terbanyak diparu-paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer
Penularan Mycobacterium tuberculosis biasanya melalui udara hingga sebagian besar fokus primer tuberculosis terdapat dalam paru. Selain melalui udara penularan dapat peroral misalnya minum susu yang mengandung basil tuberculosis, biasanya Mycobacterium bovis. Dapat juga terjadi dengan kontak langsung misalnya melalui luka atau lecet di kulit. Tuberculosis kongenital sangat jarang dijumpai. Selain Myco bacterium tuberculosis perlu juga dikenal golongan Mycobacterium lain yang dapat menyebabkan kelainan yang menyerupai tuberculosis. Golongan ini disebut Mycobacterium atipic atau disebut juga unclassified Mycobacterium.

B.  SARAN
     Penulis berharap dengan selesainya laporan ini, maka dapat meningkatkan pengetahuan penulis, pembaca dan pasien yang telah menerima asuhan keperawatan ini.
Dalam hal lain, penulis ingin memberikan saran pada pihak AKPER dalam proses pencapain mata Ajar keperawatan Keperawatan Keluarga :
Dalam proses bimbingan oleh pembimbing lapangan  sudah mampu melibatkan seluruh mahasiswa.
Diharapkan mahasiswa untuk dapat dengan rutin melakukan kujungan pada keluarga binaan agar asuhan keperawatan yang diberikan dapat benar-benar merubah prilaku hidup keluarga binaan tersebut.







DAFTAR PUSTAKA
Corwin, E. (2001). Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC
Dermawan,A. (2009). Penuntun Praktik Asuhan Keperawatan Keluarga. Edisi 2. Jakarta: TIM
Doengoes, E. M. (2000).  Rencana Asuhan Keperawatan. Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien . Jakarta: EGC.
Price, Sylva. (1995). Patofisiologi. Alih bahasa Peter Anugerah. Edisi 4. Jakarta : EGC.
WWW.google.com //http anatomi-fisiologi-paru

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : GosipHot.com | iniTrik.com
Copyright © 2011. CAMPURTAPIMISAH - All Rights Reserved
Template Created by sBisnis.com Published by iniCtm.com
Proudly powered by Blogger