Latest Post :
Post Terbaru
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

CampurTapiMisah goes to Jogja

Perjalanan ke Jogja dimulai dari Bandara Soekarno Hatta, kita ambil penerbangan jam 2 siang dengan pertimbangan harga tiket yg lebih murah, juga ngga kemaleman nyampe disana, Jakarta-Jogja cuma sekitar 50 menit jadi kurang lebih jam 5 kita sudah mendarat di Adi Sudjipto :)


Dari bandara kita langsung menuju daerah Sleman, (kebetulan kita punya teman yg udah bantuin booking tempat buat nginep semalam sejenis kost-an tp bisa disewa permalam) dengan harga IDR 150.000,- , kita naik taksi (disebut taksi tapi mobil pribadi) dengan ongkos IDR 80.000 saja. Daerah Sleman ngga terlalu jauh dari pusat  kota, sekitar 20 menit kita udah tiba di tujuan. 

Setelah istirahat sebentar dan beres-beres kita mau langsung jalan muterin pusat kota Jogja. Sebelumnya kita makan ayam bakar dulu dideket kostan yang menurut kita harganya fantastis murah karena makan ber-empat.  Dengan harga IDR 30.000 kita udah bisa sewa motor 24 jam.  Temen disini nyaranin kita pake motor aja buat 3 hari kedepan, lebih praktis dan save cost juga katanya :)


Wisata malam Jogja kita mulai dari Tugu Jogja, landmark-nya kota Jogja yang selalu muncul di foto-foto traveling. Suasana di sekitar Tugu rame banget karena masih sekitar jam 7 malam, banyak wisatawan lokal dan bahkan penduduk sekitar yang sengaja nongkrong di pinggir jalan dan ambil foto Tugu dari angle yang paling bagus (angle kita paling biasa kayaknya :D).  Setelah Tugu, kita lanjut ke Jl. Malioboro, jalan paling fenomenal di Jogja, Jepret-jepret di Malioboro plus jalanin sepanjang jalan yang banyak dagangan, jajanan, teruama angkringan yang khas Jogja. Setelah capek jalan sana-sini (kita nyampe ke Pasar Beringharjo juga) kita mau cari cemilan yang manis-manis dan anget.  Meluncurlah kita ke Alun-Alun Keraton Jogja.  Suasana disini malah lebih ramai lagi, banyak mobil hias warna-warni yang musik sama lampunya dijamin cetar abis. Kita sempat muter-muter alun-alun naik mobil hias ini, cukup murah juga biaya sewanya IDR 50.000 dua kali muter hehe.  Abis muter-muter naik mobil, kita duduk di atas tikar yang buat nikmatin wedang ronde yang pas banget anget-anget di udara malem kayak gini.  Nah di Alun-alun ini ada 2 pohon terkenal yang juga punya cerita.  Pohonnya tepat ditengah-tengah, satu-nya tinggi besar dan satu lagi pendek kecil. Katanya, setiap yang bisa ngelewatin/jalan diantara kedua pohon ini dan berhasil lurus, berarti dia orangnya tulus.  Kita sempet mau coba, tapi akhirnya cuma jalan ngelewatin pohonnya doang :p
Sekitar jam 12 malam, berakhirlah Night Tournya kita, balik ke kost tempat kita nginep. Tidur nyiapn tenaga buat explore Jogja lagi besoknya.



Keesokan harinya (Hari ke-1), kita putusin mau ke Candi Borobudur di Magelang, naik sepeda motor.  Setelah leyeh-leyeh dulu, akhirnya kita berangkat sekitar jam 11 siang, dengan bermodalkan maps ternama a.k.a Waze, katanya sih sekitar 2 jam kurang lebih menuju Candi Borobudur di Magelang. 




Jalannya beneran ga ribet sama sekali, lurus-lurus aja dijalan Raya Jogja Magelang.  Kurang lebih jam 2 kita tiba di Candi Borobudur, sempet ada hujan dadakan juga sekitar 15 menit yang bikin kita harus sewa payung ;)

Next kita mulai masuk ke pelataran Candi yang pernah masuk 7 keajaiban dunia ini.  Candi-nya luar biasa bagus arsitekturnya, relief-relief dan stupa, semuanya dikerjakan dengan apik, megah. 





Butuh waktu sekitar satu jam muterin seluruh Candi, sembari jeprat-jepret dan sesekali selfie.  Hari itu sebenernya bukan hari libur, tapi ada banyak rombongan yang datang sampe bikin suah banget jalan muterin ini Candi.  Setelah puas liat-liat kita akhirnya turun dan cari makan, sebelumnya kita beli beberapa souvenir kecil yang banyak dijajakan sepanjang jalan keluar.

Selesai makan kita berencana lanjut ke Pantai Parangtritis, yang lagi-lagi dengan bantuan maps kita yakin bisa nyampe sana sekitar 3 jam dan langsung cari penginapan. Jalan menuju Pantai Parangtritis ini juga ngga serumit yang dibayangin.  Jam 7 malam kita akhirnya nyampe di Pantai Parangtritis,langsung ketemu penginapan yang murah dan cukup layak apalagi cuma buat tidur doang. Harga sewa-nya IDR 70.000 permalam, itu juga setelah tawar menawar di musim sepi pengunjung :d kebetulan di penginapan ini juga jual makanan, jadilah kita makan malam dulu baru kemudian istirahat setelah perjalanan Borobudur-Parangtritis.


Pagi-nya (Hari ke-2) setelah mandi dan beberes, kita langsung menuju Pantai Parangtritis yang jaraknya hanya beberapa meter dari penginapan.  Berjalan sambil telanjang kaki lalu seperti biasa jepret-jepret.  





Kita juga sempetin ke Pantai Parangkusumo yang letaknya cuma sekitar 10 menit dari pantai parangtritis.

Sekitar jam 11 kita lanjut ke Taman Wisata Kalibiru, yang lagi-lagi dibantu oleh maps (sungguh bisa diandalkan) yang estimasi sekitar 2 jam dari Parangtritis. Sebelumnya kita makan siang dulu dan langsung capcuss ke Kalibiru.



Tiba di Kalibiru sekitar jam 1 siang, dan percayalah sempat ada tragedi dorong motor karena emang Kalibiru ini posisinya bener-bener ada di atas jadi jalannya mendaki yang ngga kasi ampun :p

Dibawahnya ada Waduk Sermo yang luas, lengkap dahhh.  Pemandangannya luar biasa indah dari atas dan yang ngga ketinggalan kita foto di atas pohon yang lagi in biar dibilang kekinian :D






Puas menkmati Kalibiru, kita putuskan langsung balik ke Jogja sekitar jam 3 dengan estimasi nyampe jam 7 malam di Jogja.  Sesampainya di Jogja kita cari Hotel online yang murah dan dekat dengan stasiun Tugu, karena kita mau pulang dengan kereta senja besoknya.  Beruntung kita dapat Hotel yang pas di kantong tapi cukup bagus untuk ukuran hotel murah.  Sampai hotel kita langsung istirahat setelah perjalanan panjang Parangtritis-Kalibiru-Jogja.  

Esok paginya (hari ke-3) hari terakhir kita di Jogja, kita check out dari Hotel sekitar jam 12, dan mau keliling cari oleh-oleh bakpia dan kaos juga.  Sewa becak dayung buat anterin kita ke tempat jual oleh-oleh sambil nikmatin sore-sore di Jogja, puas liat tempat jual bakpia segala rasa dan nama, juga pusatnya pembuatan dan jualan kaos, kelar nyari oleh-oleh kita langsung ke Stasiun Tugu buat nunggu kereta senja yang berangkat jam 6.

Jogja memang indah, Jogja memang sederhana, dan itu yang bikin kita betah dan suatu hari balik lagi kesini, datengin tempat-tempat yang belum sempat kita kunjungin.

salam #campurtapimisah






  






10 Fakta 17 Agustus 1945 Yang Mungkin Belum Anda Ketahui


Pasti pada tau Tujuh belas Agustus merupakan hari besar kemerdekaan bangsa Indonesia. Pada tanggal tersebut, merupakan hari paling bersejarah negeri ini karena di hari itulah merupakan awal dari kebangkitan rakyat Indonesia dalam melawan penjajahan sekaligus penanda awalnya revolusi. Namun, ada beberapa hal menarik seputar hari kemerdekaan negeri kita tercinta ini yang sayang jika belum Anda ketahui yuk di cek.

1. Soekarno Sakit Saat Proklamirkan Kemerdekaan
Pada 17 Agustus 1945 pukul 08.00 (2 jam sblm pembacaan teks Proklamasi), ternyata Bung Karno masih tidur nyenyak di kamarnya, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini. Dia terkena gejala malaria tertiana. Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Saat itu, tepat di tengah2 bulan puasa Ramadhan.
‘Pating greges’, keluh Bung Karno setelah dibangunkan dr Soeharto, dokter kesayangannya. Kemudian darahnya dialiri chinineurethan intramusculair dan menenggak pil brom chinine. Lalu ia tidur lagi. Pukul 09.00, Bung Karno terbangun. Berpakaian rapi putih-putih dan menemui sahabatnya, Bung Hatta.
Tepat pukul 10.00, keduanya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dari serambi rumah. ‘Demikianlah Saudara-saudara! Kita sekalian telah merdeka!’, ujar Bung Karno di hadapan segelintir patriot-patriot sejati. Mereka lalu menyanyikan lagu kebangsaan sambil mengibarkan bendera pusaka Merah Putih. Setelah upacara yang singkat itu, Bung Karno kembali ke kamar tidurnya; masih meriang. Tapi sebuah revolusi telah dimulai…

2. Upacara Proklamasi Kemerdekaan Dibuat Sangat Sederhana
Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ternyata berlangsung tanpa protokol, tak ada korps musik, tak ada konduktor, dan tak ada pancaragam. Tiang bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar, serta ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara. Tetapi itulah, kenyataan yang yang terjadi pada sebuah upacara sakral yang dinanti-nanti selama lebih dari 300 tahun!

3. Bendera dari Seprai
Bendera Pusaka Sang Merah Putih adalah bendera resmi pertama bagi RI. Tetapi dari apakah bendera sakral itu dibuat? Warna putihnya dari kain sprei tempat tidur dan warna merahnya dari kain tukang soto!

4. Akbar Tanjung Jadi Menteri Pertama “Orang Indonesia Asli”
Setelah merdeka 43 tahun, Indonesia baru memiliki seorang menteri pertama yang benar-benar ‘orang Indonesia asli’. Karena semua menteri sebelumnya lahir sebelum 17 Agustus 1945. Itu berarti, mereka pernah menjadi warga Hindia Belanda dan atau pendudukan Jepang, sebab negara hukum Republik Indonesia memang belum ada saat itu. ‘Orang Indonesia asli’ pertama yang menjadi menteri adalah Ir Akbar Tanjung (lahir di Sibolga, Sumatera Utara, 30 Agustus 1945), sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga pada Kabinet Pembangunan (1988-1993)

5. Kalimantan Dipimpin 3 Kepala Negara
Menurut Proklamasi 17 Agustus 1945, Kalimantan adalah bagian integral wilayah hukum Indonesia. Kenyataannya, pulau tersebut paling unik di dunia. Di pulau tersebut, ada 3 kepala negara yang memerintah! Presiden Soeharto (memerintah 4 wilayah provinsi), PM Mahathir Mohamad (Sabah dan Serawak) serta Sultan Hassanal Bolkiah (Brunei).

6. Setting Revolusi di Indonesia Diangkat Ke Film
Ada lagi hubungan erat antara 17 Agustus dan Hollywood. Judul pidato 17 Agustus 1964, ‘Tahun Vivere Perilocoso’ (Tahun yang Penuh Bahaya), telah dijadikan judul sebuah film – dalam bahasa Inggris; ‘The Year of Living Dangerously’. Film tersebut menceritakan pegalaman seorang wartawan Australia yg ditugaskan di Indonesia pada 1960-an, pada detik2 menjelang peristiwa berdarah th 1965. Pada 1984, film yang dibintangi Mel Gibson itu mendapat Oscar untuk kategori film asing!

7. Naskah Asli Proklamasi Ditemukan di Tempat Sampah
Naskah asli teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ditulis tangan oleh Bung Karno dan didikte oleh Bung Hatta, ternyata tidak pernah dimiliki dan disimpan oleh Pemerintah! Anehnya, naskah historis tersebut justru disimpan dengan baik oleh wartawan BM Diah. Diah menemukan draft proklamasi itu di keranjang sampah di rumah Laksamana Maeda, 17 Agustus 1945 dini hari, setelah disalin dan diketik oleh Sajuti Melik.Pada 29 Mei 1992, Diah menyerahkan draft tersebut kepada Presiden Soeharto, setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari.

8. Soekarno Memandikan Penumpang Pesawat dengan Air Seni
Rasa-rasanya di dunia ini, hanya the founding fathers Indonesia yang pernah mandi air seni. Saat pulang dari Dalat (Cipanasnya Saigon), Vietnam, 13 Agustus 1945, Soekarno bersama Bung Hatta, dr Radjiman Wedyodiningrat dan dr Soeharto (dokter pribadi Bung Karno) menumpang pesawat fighter bomber bermotor ganda. Dalam perjalanan, Soekarno ingin sekali buang air kecil, tetapi tak ada tempat. Setelah dipikir, dicari jalan keluarnya untuk hasrat yang tak tertahan itu. Melihat lubang-lubang kecil di dinding pesawat, di situlah Bung Karno melepaskan hajat kecilnya. Karena angin begitu kencang sekali, bersemburlah air seni itu dan membasahi semua penumpang.

9. Negatif Film Foto Kemerdekaan Disimpan Di Bawah Pohon
Berkat kebohongan, peristiwa sakral Proklamasi 17 Agustus 1945 dapat didokumentasikan dan disaksikan oleh kita hingga kini. Saat tentara Jepang ingin merampas negatif foto yang mengabadikan peristiwa penting tersebut, Frans Mendoer, fotografer yang merekam detik-detik proklamasi, berbohong kepada mereka. Dia bilang tak punya negatif itu dan sudah diserahkan kepada Barisan Pelopor, sebuah gerakan perjuangan. Mendengar jawaban itu, Jepang pun marah besar. Padahal negatif film itu ditanam di bawah sebuah pohon di halaman Kantor harian Asia Raja. Setelah Jepang pergi, negatif itu diafdruk dan dipublikasi secara luas hingga bisa dinikmati sampai sekarang. Bagaimana kalau Mendoer bersikap jujur pada Jepang?

10. Bung Hatta Berbohong Demi Proklamasi
Kali ini, Bung Hatta yang berbohong demi proklamasi. Waktu masa revolusi, Bung Karno memerintahkan Bung Hatta untuk meminta bantuan senjata kepada Jawaharlal Nehru. Cara untuk pergi ke India pun dilakukan secara rahasia. Bung Hatta memakai paspor dengan nama ‘Abdullah, co-pilot’. Lalu beliau berangkat dengan pesawat yang dikemudikan Biju Patnaik, seorang industrialis yang kemudian menjadi menteri pada kabinet PM Morarji Desai. Bung Hatta diperlakukan sangat hormat oleh Nehru dan diajak bertemu Mahatma Gandhi.

Nehru adalah kawan lama Hatta sejak 1920-an dan Dandhi mengetahui perjuangan Hatta. Setelah pertemuan, Gandhi diberi tahu oleh Nehru bahwa ‘Abdullah’ itu adalah Mohammad hatta. Apa reaksi Gandhi? Dia marah besar kepada Nehru, karena tidak diberi tahu yang sebenarnya.’You are a liar!’ ujar tokoh kharismatik itu kepada Nehru.

Sumber kr*** thankz ctm.

 
Support : GosipHot.com | iniTrik.com
Copyright © 2011. CAMPURTAPIMISAH - All Rights Reserved
Template Created by sBisnis.com Published by iniCtm.com
Proudly powered by Blogger