Asuhan Keperawatan Pada Ny.R
Dengan Typoid
Di IGD
Disusun Oleh :
E
092449
AKADEMI PERAWATAN RS PGI CIKINI
JAKARTA
2012
Demam thypoid merupakan
penyakit infeksi akut usus halus yang di sebabkan oleh kuman salmonella
typhosa. Penyakit ini termasuk penyakit menular dendan rute penularannya dalam
bahasa inggris disiingkat 5 F yaitu Feses,Fly (lalat),
food (makanan),finger,fommit.
Demam typoid adalah penyakit
sitemik akut yang sering terjadi di daerah tropik di bandingkan dengan daerah
dingin. Penyakiy yang juga sering terjadi pada masyarakat dengan standar hidup dan
kebersihan rendah,cenderung terjadi endemis.
Demam typoid adalah penyakit
infeksi akut yang si sebabkan oleh kuman gram negatif salmonella typhi. Selama
terjadi infeksi,kuman tersebut bermultiplikasi dalam sel fagositik mononuklear
dan secara berkelanjutan di lepaskan ke aliran darah.
Demam typoid disebabkan oleh
bakteri salmonella typhi dengan gejala demam 1 minggu lebih (39°C- 40°C)
disertai gangguan pada saluran pencernaan.
B.
ETIOLOGI
Salmonella typhi merupakan
bakteri gram negatif yang bersifat motil tidak membentuk spora, dan tidak
berkapsul. Kebanyakan strain meragikan glukosa, manosa dan manitol untuk
menghasilkan asam dan gas,tetapi tidak meragikan laktosa dan sukrosa. Organisme
salmonella tumbuh secara aerob falkutatif. Kebanyakan spesies resisten terhadap
agen fisik namun dapat dibunuh dengan pemanasan 54,4°C selama 1 jam atau 60°C
selama 15 menit. Salmonella tetap dapat hidup pada suhu ruang dan suhu rendah
selama beberapa hari dan bertahan hidup selama berminggu-minggu dalam sampah,
bahan makanan kering, tinja. ( Ashkenazi et al ,2002).
Salmonella typhi memiliki 3
antigen yaitu:
1.
Antigen O :
somatic antigen ( tidak menyebar )
2.
Antigen H : (menyebar) terdapat pada flagella dan
bersifat termolabil
3.
Antigen IV : kapsul yang meliputi tubuh kuman dan
melindungi antigen O terhadap patogenesis. Masa inkubasi 10-20 hari.
C. ANATOMI
a.
Rongga mulut
Permukaan
saluran pencernaan yang juga terdapat kelenjar ludah
b.
Esophagus
Saluran cerna yang menghubungkan dengan lambung,panjangnya ± 25 cm .
c.
Lambung
Mensekresi
getah lambung ( HCl)
d.
Usus halus
Adalah
tabung yang kira-kira sekitar 2,5m dalam keadaan hidup. Usus halus memanjang
dari lambung dalam atau sampai katup ileo-kolika tampat bersambung dengan usus
besar. Usus halus terletak di daerah umbiikus dan dikelilingi oleh usus besar.
Selama proses pencernaan normal, kimus meninggalkan lambung dan memasuki usus
halus. Usus halus merupakan sebuah saluran yang berdiameter 2,5cm, merupakan
saluran paling panjang tempat proses pencernaan dan absorbsi hasil pencernaan.
Lapisan usus halus terdiri dari :
·
Lapisan Mucosa (sebelah atau bagian dalam)
·
Lapisan Otot Melingkar
·
Lapisan Otot Pemanjang
·
Lapisan Serosa (sebelah atau bagian luar.
Terdiri dari duodenum,
jejenum, dan ileum. Enzim dari pankreas (amylase) dan empedu di lepaskan ke
duodenum. Nutrisi hampir selurruhnya di absorbsi oleh duodenum dan jejenum.
Ileum mengabsorbsi vitamin tertentu, zat besi dan garam empedu.
e.
Usus besar
Panjang ± 1,5m, lebar 5-6 cm. lapisan dari luar ke
dalam : selaput lender,lapisan otot melingkar,lapisan otot memanjang,jaringan
ikat. Fungsi usus besar adalah menyerap air,tempat pembentukan vit K, tempat
tinggal bakteri E.Coly,tempat feces.
f.
Rectum
Rectum
terletak di bawah kolon sigmoid yang menghubungkan intestinum mayor dengan
anus,terletak dalm rongga pelvis di depan os sarkum dan os coksigis.
g.
Anus
Terdiri dari :
·
Sfingter ani internus (sebelah atas) bekerja
tidak menurut kehendak
·
Sfingter levator ani bekerja juga
tidak menurut kehendak
·
Sfingter ani eksternus (sebelah
bawah) bekerja menurut kehendak.
Salmonella typhi masuk ke
dalam tubuh bersama makanan dan air yang tercemar. Sebagian kuman di musnahkan
oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus. ( Mnsjoer,2000).
Setelah mencapai usus halus
salmonella typhosa menembus ileum di tangkap oleh sel mononuklear terjadi
bakteremia I. Setelah berkembang di RES terjadilah bakteremia II.
(Darmowandowo,2006).
Terjadi interaksi salmonella
typhosa dengan makrofag menimbulkan mediator-mediator sehingga menyebabkan
hiperplasi,nekrosis dan ulkus. Secara sistemik timbul gejala panas ,
iritabilitas vaskuler,insisi sistem pambekuan darah, depresi susum tulang
belakang.
Imunologi, di usus di
produksi IgA sekretorik yang berfungsi mencegah melekatnya salmonella typhosa
pada mukosa usus.
Patofisiologi Thypoid Pada
Ny.R/54 Tahun
Intake
makanan tidak bersih
Saluran pencernaan
Lambung Imflamasi pada
gaster(lambung)
Mual,muntah
Usus Halus(duodenum,jejunum) Gangguan
nutrisi
Koloni kuman(pengumpulan)
Timbul
Plaque pyeri(luka)
Imflamasi(radang)
Nyeri Panas Bengkak Eritem
Abdomen
Ggn keseimbangan Obstruksi usus Perforasi
Cairan
Konstipasi Melena
Syok
Hipofolemik
E.
MANIFESTASI KLINIK
Keluhan dan gejala demam typhoid
tidak khas, dan bervariasi dari gejala seperti flu ringan sampai berat dan
fatal jika mengenai sistem organ. Secara klinik penyakit typhus berupa demam
berkepanjangan, gangguan fungsi usus, dan keluhan susunan saraf pusat.
1.
Panas lebih dari 7 hari,biasanya semakin hari semakin tinggi(
39°-40°C)
2.
Gastrointestinal dapat berupa konstipasi, diare di sertai
rasa mual, muntah, kembung, lidah kotor,hepatomegali, slenomegali.
3.
Pada minggu ke 2 panas`tinggi terus-menerus terutama pada
malam hari.
4.
Gejala saraf sentral berupa
delirium,apatis,somnolen,sopor,bahkan sampai koma.
5.
Pada akhir minggu ke 3 demam berangsur-angsur turun dan
normal, kesadaran menurun dan terjadi perdarahan usus dan menyebabkan kematian.
F.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.
Hematologi
Darah yaitu
Hb,Ht
2.
Reaksi widal aglutinin O dan H semakin tinggi titernya
semakin besar kemungkinannya menderita typhoid. Pada infeksi aktif titer widal
akan meningkat pada pemeriksaan setelah 5 hari.
3.
Kultur feces dan urine (+) salmonella typhosa selama 2 minggu
4.
Biakan empedu : terdapat basil salmonella typhosa pada urine
dan tinja jika pada pemeriksaan dua kali berturut-turut di dapatkan hasil
salmonella typhosa.pada urine maka pasien di nyatakan betul-betul sembuh.
Pengobatan penderita demam
typhoid di rumah sakit terdiri dari pengobatan suportif meliputi istirahat dan
diet.
Istirahat bertujuan untuk
mencegah komplikasi dan memparcepat penyembuhan. Pasien harus tirah baring
absolute sampai minimal 7 hari bebas demam. Mobilisasi dilakukan bertahap
sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien.
Diet terapi penunjang dilakukan dengan:
·
Diet rendah serat
·
Bubur saring,bubur kasar, nasi diberikan sesuai tingkat
kesembuhan pasien.
·
Vitamin,mineral untuk mendukung keadaan umum pasien.
Penatalaksanaan farmakologik
:
·
Kloramfenikol
·
Amoksilin
·
Sefalosporin generasi III
·
Meropenem
·
Flourokuinolon
1.
Komplikasi intestinal
·
Perdarahan usus
·
Perforasi usus
·
Ileus paralitik
2.
Komplikasi ekstra intestinal
·
Kardiovaskuler :
kegagalan sirkulasi perifer, miokarditis, trombosis, tromboflebitis
·
Darah :
anemia hemolitik, trombositopenia, koagulasi
·
Paru :
pneumonia
·
Hepar :
hepatitis dan kolelitiasis
·
Ginjal :
glomerulonefritis ,pielonefritis
·
Tulang :
artitis , osteomielitis
·
Neuropsikiatrik :
meningitis, psikosis, sindrom guillian-bare
-
Aktivitas / istirahat
Gejala :
gangguan pola tidur, insomnia,kelemahan fisik
Merasa gelisah, ansietas
Tanda :
periode hypoaktivitas
-
Sirkulasi
Gejala :
perasaaan dingin meskipun di ruang hangat
:
TD hipotensi
:
takikardi, bradikardi, disritmia.
-
Integritas ego
Gejala :
perasaan tidak berdaya
Tanda :
ansietas
-
Eliminasi
Gejala :diare/
konstipasi , nyeri abdomen
Tanda :
bising usus menurun
-
Nutrisi
Gejala :
penurunan berat badan , integritas kulit buruk.
Tanda :
mual,muntah,anoreksia.
-
Nyeri/kenyamanan
Gejala :
nyeri abdomen
Tanda :
nyeri tekan abdomen/distensi
B.
DIAGNOSA
1.
Hyperthermia berhubungan dengan laju metabolisme meningkat.
2.
Resiko
tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual,muntah, intake cairan
tidak adekuat, peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah yang
mengakibatkan keluarnya plasma dari pembuluh darah.
3.
Resti
nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.
4.
Intoleransi aktivitasberhubungan dengan kelemahan fisik dan imobilisasi.
5.
Cemas
berhubungan dengan informasi yang tidak adekuat.
C.
INTERVESI
Diagnosa I
Hipertermi berhubungan dengan laju metabolisme
meningkat.
Tujuan : hyperthermia teratasi selama dua hari perawatan.
Kriteria hasil: tanda-tanda vital dalam batas normal:
S: 36°c-37,5°c.
N: 60-100x/menit
RR: 16-20x/menit
TD: 120/80-130/80 mmHg
Bebas dari kedinginan(mengigil)
Demam
tidak ada
Intervensi
a) Observasi tanda-tanda vital.
Rasional : mengetahui perkembangan
penyakit pasien
b) Beri kompres dengan air biasa di
daerah temporal bila terjadi panas.
Rasional : terjadi penurunan panas denagan
vasodilatasi perifer yang dapat menurunkan panas.
c) Observasi tetesan infuse.
Rasional:Untuk pemberian cairan yang
adekuat
d) Anjurkan minum 2000-2500 cc/hari
Rasional : pemenuhi kebutuhan cairan
e) Anjurkan pasien untuk mengenakan
baju yang tipis/ menyerap keringat.
Rasional : tidak terajdi dehidrasi
krn peningkatn suhu tubuh.
f) Kolaborasi memberikan cairan
infuse.
Rasional : pemenuhan kebutuhan cairan
dan elektrolit
g) Kolaborasi berikan obat sesuai indikasi ( sumagesic)
Rasional : obat penurun panas
h) Kolaborasi berikan antibiotic( ceftriaxone)
Rasional : untuk pencegahan infeksi lebih
lanjut ( oleh salmonella thypi)
Diagnosa II
Resti kekurangan volume cairan berhubungan dengan
mual,muntah,intake yang tidak adekuat,peningkatan permeabilitas dinding
pembuluh darah yang mengakibatkan keluarnya plasma dari pembuluh darah.
Tujuan : volume cairan dapat terpenuhi sesuai dengan kebutuhan tubuh.
Kriteria hasil:
·
mukosa bibir lembab
·
tanda-tanda vital dalam batas normal
·
tidak ada tanda-tanda dehidrasi
·
balance cairan nol (0)
Intervensi:
a) kaji tanda-tanda vital
Rasional : untuk mengetahui data perkembangan penyakit
pasien
b) pantau intake dan output selama 24jam
Rasional: untuk mengetahui balance
cairan
c) catat mual,muntah dan distorsi lambung
Rasional: untuk memantau output
cairan
d) kaji tanda-tanda dehidrasi : turgor
kulit kering,mukosa bibir kering,rasa haus,mata cekung.
Rasional: mengetahui dan mencegah
terjadinya syok
e) Berikan minum 2000-2500 cc/ hari.
Rasional: Untuk memenuhi kebutuhan
cairan tubuh
f) Kolaborasi berikan cairan infuse.
Rasional : memenuhi kebutuhan cairan
dan elektrolit
g) Observasi tetesan infuse.
Rasional : memantau ketepatan dan
keadekuatan dalam pemberian cairan infuse
h) Kolaborasi untuk pemeriksaan
elektrolit
Rasional : untuk mengetahui kebutuhan
elektrolit sesuai indikasi
Diagnose III
Resti nutrisi
kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake tidak adekuat.
Tujuan : kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi.
Kriteria Hasil:
·
Nafsu makan bertambah
·
BB meningkat/ideal
·
Integritas kulit baik
·
Bising usus normal ( 6-12 x)
·
Nilai laboratorium normal
·
Porsi makan habis
Intervensi:
a) Kaji intake dan output nutrisi
Rasional: untuk mengetahui
keefektifan asupan nutrisi
b) Kaji tanda-tanda vital
Rasional : untuk mengetahui
perkembangan penyakit
c) Timbang berat badan
Rasional : untuk mengetahui
perkembangan pemenuhan nutrisi adekuat pada pasien
d) Catat adanya mual muntah
Rasional : untuk mengetahui ke
adekuatan pemenuhan nutrisi .
e) Anjurkan makan sedikit tapi
sering
Rasional: untuk membantu pemenuhan
kebutuhan nutrisi tubuh.
f) Kaji makanan yang di sukai dan
yang tidak di sukai
Rasional: membantu kebutuhan specific
untuk meningkatkan intake pasien.
g) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan diet
Rasional : pemenuhan nutrisi sesuai
indikasi
h) Kolaborasi memberikan obat-obat antiemetic sesuai indiksai(rantin)
Rasional : untuk menghilangkan mual
muntah.
Diagnosa IV
Kurangnya pengetahuan tentang
penyakitnya berhubungan dengan kurang informasi
Tujuan : Pengetahuan
keluarga meningkat
Kriteria hasil : Pasien tahu tentang penyakitnya
Intervensi
a)
Kaji sejauh mana
tingkat pengetahuan pasien tentang penyakitnya
Rasional : mengetahui apa yang diketahui pasien tentang penyakitnya.
Rasional : mengetahui apa yang diketahui pasien tentang penyakitnya.
b)
Beri pendidikan
kesehatan tentang penyakit dan perawatan pasien
Rasional : supaya pasien tahu tata laksana penyakit, perawatan dan pencegahan penyakit typhoid.
Rasional : supaya pasien tahu tata laksana penyakit, perawatan dan pencegahan penyakit typhoid.
c)
Beri kesempatan
pasien dan keluaga pasien untuk bertanya bila ada yang belum dimengerti
Rasional : mengetahui sejauh mana pengetahuan pasien dan keluarga pasien setelah di beri penjelasan tantang penyakitnya.
Rasional : mengetahui sejauh mana pengetahuan pasien dan keluarga pasien setelah di beri penjelasan tantang penyakitnya.
d)
Beri reinforcement
positif jika klien menjawab dengan tepat
Rasional : memberikan rasa percaya diri pasien dalam kesembuhan sakitnya.
Rasional : memberikan rasa percaya diri pasien dalam kesembuhan sakitnya.
Diagnosa V
Intoleransi
aktivitas berhubungan dengan kelemahan/bed rest
Tujuan : pasien bisa melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari secara optimal.
Kriteria hasil :
Kebutuhan personal terpenuhi
Dapat melakukan gerakkan yang bermanfaat bagi tubuh.
memenuhi AKS dengan teknik penghematan energi.
Dapat melakukan gerakkan yang bermanfaat bagi tubuh.
memenuhi AKS dengan teknik penghematan energi.
Intervensi
a) Beri motivasi pada pasien dan kelurga untuk melakukan mobilisasi
sebatas kemampuan (missal. Miring kanan, miring kiri).
R/ agar pasien dan keluarga mengetahui pentingnya mobilisasi bagi pasien yang bedrest.
R/ agar pasien dan keluarga mengetahui pentingnya mobilisasi bagi pasien yang bedrest.
b) Kaji kemampuan pasien dalam
beraktivitas (makan, minum).
R/ untuk mengetahui sejauh mana kelemahan yang terjadi.
R/ untuk mengetahui sejauh mana kelemahan yang terjadi.
c) keperluan pasien dalam
jangkauannya.
R/ untuk mempermudah pasien dalam melakukan aktivitas.
R/ untuk mempermudah pasien dalam melakukan aktivitas.
d) Berikan latihan mobilisasi secara bertahap sesudah demam hilang.
R/ untuk menghindari kekakuan sendi dan mencegah adanya dekubitus.
R/ untuk menghindari kekakuan sendi dan mencegah adanya dekubitus.
BAB III
TINJAUAN KASUS
PENGKAJIAN
KEPERAWATAN KEGAWAT DARURATAN
Unit : IGD Jam
Masuk : 08.15
Tanggal Masuk : 21 – 3 - 2012
Tanggal
Pengkajian : 21 - 3 - 2012
Auto/Aullo
Anamnesa : Auto dan allo
anamnesa
RM :
22.32.60
Nama Pasien : Tn. R
Tempat/ Tgl
Lahir : 24 Mei 1958 Umur : 54
Tahun
Status
Perkawinan : Menikah
Agama/ Suku : Kristen / Batak
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT
Alamat Rumah : Jl.Cempaka Putih No.42.
Riwayat Penyakit : Os datang dengan keluahan lemas,perut sakit
melilit,demam sejak 2 hari yang lalu . Mual (+) , muntah (+) dan kurang nafsu
makan.
Keluhan Masuk : Lemas, perut sakit , mual (+),muntah (+) dan
kurang nafsu makan.
1. Airway (jalan napas ) Diagnosa keperawatan
Sumbatan 1. Aktual
2. Resiko 3. Tidak
−
Benda asing − Sputum □ Bersihan jalan nafas tidak efektif
b/d
− Lidah Jatuh −
Cairan □
Pola nafas tidak efektif
2.Breating (pernafasan)
Inspeksi :
□Gamgguan pertukaran gas b/d
Frekwensi nafas : 24 x/menit
RTeratur - Tidak teratur □
Perubahan perfusi jaringan otak /
Batuk : perifer/ cardiopulmonal
− Produktif −
tidak produktif
Nafas :
−sesak −
retraksi dada −
apnoe
Auskultasi :
Suara napas :
−
wheezing − ronchi − rales
Perkusi :
−
pekak −
sonor
−
timpani − redup
Palpasi :
−
vocal fermitus − nyeri
3.Circulation
Suhu : 38.3 º C □
Penuruna curah jantung b/d
TD : 110/70 mmHg □
Gangguan keseimbangan cairan
RR : 24 x/menit dan
elektrolit
Nadi : 92 x/menit
R Teraba −
Lemah − kuat − tidak teraba
Turgor Kulit : □
Hipertermi b/d
− Baik Rsedang −
buruk
Mata cekung :
R ya −
tidak
−
Sianosis □ Syok hipovolemik/ hemoragik
R capillary < 3 detik cardiogenik
b/d
−
Ekstermitas dingin
RMual RMuntah
□ Nyeri Kepala
Pemeriksaan Laboratorium :
Hb :
10,3 mg/dl, Ht : 30 %,
Leukosit : 3900/ul (mm3),
Albumin : 1,8 gr/dl,
SGOT : 88U/L, SGPT : 48 U/L,
Bilirubin : 2,3, indirek : 1,7, kreatinin :
1,2 mg/dL,
natrium : 138 mEq/L, kalium : 3,7 mEq/L,
calcium : 6,9 mg/dL
Urin Lengkap
Kejernihan : agak keruh (jernih)
Esterase Leukosit : trace/15 sel/ul (negative)
Darah :3+/200
sel/ul (negative)
Protein :3+/300 mg/dl (negative)
Sedimen
Leukosit
: 3900/ul (mm3)
Eritrosit :H 27/LPB (0-4)
Bakteri :H
64/LPB (<24)
Imunologi
Widal :S.Paratyphi H
(ekor)(+) 1 : 160 (negative)
USG : abdomen dan pelvis
Kesan: Fatty liver dan hydronephrosis
sinistra vesica fella,pancreas,lien,ren dextra,buli
dan uterus normal.
4.Disability
Pupil : R Isokor □
Anisokor □
Injuri b/d
Refleks Cahaya : Positif 2mm/2mm
Kuantitatif : M ₆4 V
₅6 E
₄5
Data Pendukung : -
Obat-obatan
RL 500cc/24jam
Rantin 1 amp
GENOGRAM :
|
S
|
|
R
|
58 th 54
th
|
|
|
|
:Perempuan
|
|
:Menikah
:Keturunan
|
|
|
|
:Meninggal
DATA FOKUS
Nama klien/
Umur : Ny.R/54 tahun
No. kamar/
Ruang : IGD
|
No
|
Tanggal
|
Data subjektif
|
Data objektif
|
|
|
17-05-2011
|
“ suster, perut saya sakit mual,muntah,kurang
nafsu makan dan lemas.”
|
TD: 110/70 mmHg
RR: 24x/mnt
S: 38,3° C
N:92x/mnt
KU: lemah
Porsi makan tidk habis
BB:60 kg
TB:164 cm
Hb: 11,5 g/dL
Ht:35 %
Trombosit : 128 10 ̂ 3/µL
|
ANALISA DATA
Nama klien/
Umur : Ny.R/54 tahun
No. kamar/
Ruang : IGD
|
No.
|
Tanggal
|
Data
|
Masalah
|
Etiologi
|
|
1.
|
17-05-11
|
DS : “suster perut saya terasa
sakit,mual,dan tadi
saya muntah”
DO : Muntah (+): 200cc
Mual(+)
BB: 60 kg
TB: 164 cm
Intake : ¼ porsi
TD: 110/70mmHg
N: 92x/mnt
RR: 24x/mnt
S: 38,3° C
|
Resti nutrisi kurang dari kebutuhan.
|
Intake yang tidak adekuat
|
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Nama klien/
Umur : Ny.R/54 tahun
No. kamar/
Ruang : IGD
|
No.
|
Masalah diagnose
|
Tanggal ditemukan
|
Tanggal teratasi
|
Nama Jelas
|
|
1.
|
Resti nutrisi kurang dari kebutuhan b/d intake yang tidak adekuat.
|
21-03-2012
|
Belum teratasi
|
E
|
RENCANA KEPERAWATAN
Nama klien/
Umur : Ny.R/54 Tahun
No. kamar/
Ruang : IGD
|
Tanggal
|
No. Dx
|
Tujuan dan kriteria
hasil
|
Rencana tindakan
|
Paraf
|
|
21-03-12
|
1
|
Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi setelah 3 hari di rawat
Kriteria hasil:
Mual(-)
Muntah (-)
BB meningkat/ideal
Integritas kulit baik
Porsi makan habis
|
1.Kaji intake dan output
nutrisi
2.Kaji tanda-tanda vital
3.Timbang berat badan
4.Catat adanya mual muntah
5.Anjurkan makan sedikit tapi
sering
6Kaji makanan yang di sukai dan
yang tidak di sukai
7.Kolaborasi dengan ahli gizi
untuk menentukan diet
8.Kolaborasi memberikan
obat-obat antiemetic sesuai indiksai(rantin)
|
E
|
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Nama klien/
Umur : Ny.R/54 tahun
No. kamar/
Ruang : IGD
|
Tanggal & waktu
|
No. Dx
|
Tindakan Keperawatan dan
Hasil
|
Paraf
|
|
21-03-12
08.15
08.20
08.30
08.35
08.45
09.00
09.05
|
I
|
1.mengkaji intake dan output
nutrisi
Respon: makan ½ porsi.
2.mengkaji tanda-tanda vital
TD:110/70 mmHg N: 92x/mnt
S: 38,3°C
RR:24 x/mnt
3.menimbang berat badan
Respon: 60 kg
4.mencatat adanya mual muntah
Respon: mual(+)
Muntah 200cc
5.menganjurkan makan sedikit
tapi sering
Respon: pasien makan pudding.
6.mengkaji makanan yang di
sukai dan yang tidak di sukai
Respon: pasien tidak suka telur
rebus
8.berkolaborasi memberikan
obat-obat analgetik
sesuai indikasi(rantin).
Respon: rantin 1 amp dan 1 RL.
|
E
|
CATATAN EVALUASI
KEPERAWATAN
(SOAP)
Nama klien/
Umur : Ny.R/54tahun
No. kamar/
Ruang : IGD
|
No Dx
|
Tanggal & Jam
|
Perkembangan Klien
|
Paraf
|
|
1
|
Rabu,21-03-2012
|
S: “ suster badan saya
lemah ,saya merasa mual, tadi
saya muntah “
O: - Mual (+),muntah (+)
-
BB: 60 kg
-
Makan ½ porsi
-
Integritas kulit sedikit kering
A: Mual(+)
Muntah
(+)
BB
meningkat/ideal
Integritas
kulit sedikit kering
Porsi makan tidak habis
P: intervensi 1,2,3,4,5,8 dilanjutkan
|
E
|
BAB IV
PEMBAHASAN
A.
Pengkajian
Selama proses pengkajian ditemukan data yang hampir
sama antara tinjauan teoritis dengan gejala yang terdapat pada pasien.
B.
Diagnosa Keperawatan
Setelah mengelompokkan data dari hasil pengkajian maka
ditemukan diagnosa keperawatan, yaitu :
1. Resti nutrisi kurang dari
kebutuhan b/d intake yang tidak adekuat.
C.
Intervensi
Intervensi atau rencana tindakan yang akan
dilakukan pada pasien,yang dipakai dalam kasus ini tidak berbeda dengan apa
yang terdapat di dalam teori.
D.
Implementasi
Implementasi dilakukan sesuai dengan intervensi yang
telah disusun sebelumnya.
Hanya ada
beberapa yang dilakukan oleh penulis,
karena keterbatasan waktu,dan mahasiswa belum bisa
melakukan.
Tindakan ini juga tidak terlepas dari peran
aktif pasien dalam memotivasi untuk mempercepat penyembuhan pasien.penulis belum melakukan pemeriksaan.
E.
Evaluasi
Dari pengalaman penulis merawat
pasien selama 1 hari,masalah keperawatan belum teratasi karena masih dalam masa
pengobatan. Pembimbing sudah membantu menemukan diagnose dan dapat mengarahkan mahasiswa dengan
sangat baik dalam menyelesaikan laporan kasus ini.
BAB V
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Setelah penulis mencoba membandingkan antara teori
yang didapat dengan pengalaman praktek di lapangan maka penulis berkesimpulan
bahwa masyarakat sudah memahami mengenai tanda dan gejala penyakit demam typhoid
Diagnosa perawatan pada kasus typhoid adalah :
1.
Resiko
tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual,muntah, intake cairan
tidak adekuat, peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah yang
mengakibatkan keluarnya plasma dari pembuluh darah.
2.
Resti
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak
adekuat.
3.
Hyperthermia berhubungan dengan laju
metabolisme meningkat.
4.
Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari
berhubungan dengan kelemahan dan imobilisasi.
5.
Cemas
berhubungan dengan informasi yang tidak adekuat.
B.
SARAN
1.
Lahan Praktek
Sebelum mahasiswa praktik ke ruangan
harus mampu melakukan pemeriksaan-pemeriksaan fisik pada pasien.
2.
Pendidikan
Untuk bagian pendidikan,mahasiswa diharapkan
menerapkan ilmu yang sudah dipelajari selama memberikan asuhan keperawatan di
lapangan.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.scribd.com/doc/35499381/Asuhan-Keperawatan-Pada-Pasien-Dengan thypoid.
Ngastiyah. ( 2005). Perawatan Anak Sakit . ed 2. Jakarta :
EGC
Sachasin R.M. (1996). Prinsip Keperawatan Pediatrik. Diterj :
Manulang R.F.
Jakarta : EGC.
Saunders. W.B. (1996). Kamus Kedokteran .ed 2. Jakarta : EGC
www. Google.com . typhoid. Gambar-gambar
tantang typhoid.


+ comments + 2 comments
terimakasih nih pembahasannya...
sedikit membantu saya
Posting Komentar